Efek histerektomi pada seorang wanita

Histerektomi dapat mempengaruhi wanita dalam beberapa cara, biasanya termasuk kegagalan ovarium prematur, berdampak pada kehidupan seks, hilangnya aliran menstruasi, dan ketidakmampuan untuk memiliki anak secara alami, yang dapat berdampak serius pada wanita yang memiliki kebutuhan kesuburan. Histerektomi juga dapat berdampak psikologis pada wanita. 1. Kegagalan ovarium prematur: Histerektomi dapat menyebabkan kegagalan ovarium prematur karena separuh aliran darah ke ovarium berasal dari cabang-cabang arteri rahim, dan setelah histerektomi, aliran darah ke ovarium berkurang dan menopause biasanya terjadi lebih awal dan biasanya lebih parah. Histerektomi yang dilakukan biasanya merupakan histerektomi total sederhana tanpa pengangkatan dinding vagina, yang tidak memperpendek panjang vagina dan hanya berdampak kecil pada kehidupan seksual. Namun, pada sebagian kecil wanita, setelah histerektomi, sayatan di bagian atas vagina akan membentuk jaringan parut saat sembuh, yang dapat memengaruhi kehidupan seksual. 3. Hilangnya aliran menstruasi: Menstruasi disebabkan oleh pelepasan endometrium secara siklis, dan jika rahim diangkat, maka tidak akan ada aliran menstruasi. 4. Ketidakmampuan untuk memiliki anak secara alami: Setelah histerektomi, wanita biasanya tidak dapat memiliki anak secara alami karena tidak ada tempat untuk membuahi janin, terutama bagi wanita muda dengan kebutuhan kesuburan. 5. Dampak psikologis: Histerektomi juga memengaruhi wanita secara psikologis, karena mereka tidak akan mengalami menstruasi dan tidak dapat memiliki anak secara alami, sehingga membuat mereka merasa cemas, mudah tersinggung, atau depresi. Histerektomi sendiri memiliki risiko pembedahan tertentu, yang terkadang mengakibatkan komplikasi seperti pembentukan hematoma intraoperatif, infeksi sekunder, dan terkadang bahkan kasus-kasus khusus seperti fistula usus, feses, dan saluran kemih pascabedah. Jika organ di sekitarnya seperti ureter, kandung kemih atau rektum rusak selama pembedahan dan tidak terdeteksi serta diperbaiki tepat waktu, maka terdapat risiko fistula feses dan kemih pasca operasi, yang sering kali harus diperbaiki. Dan terkadang perbaikannya sulit dan mungkin tidak berhasil, sehingga memerlukan operasi berulang. Inilah sebabnya mengapa histerektomi tidak boleh dianggap enteng dan harus selalu dilakukan dengan indikasi.