Etiologi dan patogenesis: Ablasi retina foraminal adalah proses patologis yang melibatkan vitreus dan retina. Akibat atrofi dan degenerasi retina atau traksi vitreus, neuroepitel retina membentuk celah di seluruh epitel retina, saluran vitreus di tepi celah, dan vitreus yang dicairkan masuk ke dalam subretina melalui celah tersebut membentuk ablasio retina. Presentasi klinis: Miopia tinggi, mata afakik, degenerasi kisi retina, dan riwayat trauma okular merupakan predisposisi pasien terhadap ablasio retina. Saat pelepasan meluas ke makula, penglihatan akan menurun dalam berbagai tingkat hingga hanya persepsi cahaya yang tersisa. Retina yang terlepas berwarna putih keabu-abuan dan bergelombang, dengan adanya celah retina. Diagnosis: Diagnosis ablasio retina yang berasal dari foraminal tidak sulit berdasarkan keluhan pasien dan fundus mata. Pemindaian ultrasonografi juga dapat membantu diagnosis. Perawatan: Perawatan bedah dini untuk ablasio retina yang berasal dari foraminal direkomendasikan, termasuk scleral buckling dan bedah vitreous. Prognosis visual berkaitan erat dengan apakah makula terlepas sebelum operasi dan lamanya waktu pelepasan. Jika makula belum terlepas atau telah terlepas kurang dari seminggu, pasien dapat berharap untuk mendapatkan kembali penglihatan yang baik setelah operasi, tetapi jika makula telah terlepas lebih dari sebulan, penglihatan pasien tidak akan pulih sepenuhnya setelah operasi. (Artikel ini diterbitkan dengan izin dari Dr. Tian Bei)