Toleransi glukosa yang terganggu mengacu pada berkurangnya kemampuan tubuh untuk mentoleransi glukosa. Ini adalah keadaan peralihan antara diabetes dan normal ketika nilai glukosa darah melebihi nilai normal 7,8 mmol/L 2 jam setelah mengonsumsi glukosa dalam jumlah tertentu (82,5 g dengan air atau 75 g tanpa air) tetapi masih belum mencapai 11,1 mmol/L atau ketika glukosa darah puasa tinggi, antara 6,2 dan 7,0 mmol/L. Toleransi glukosa yang terganggu berkaitan erat dengan diet dan olahraga. Hipertensi, obesitas, metabolisme lipid yang abnormal dan resistensi insulin merupakan faktor risiko penting untuk toleransi glukosa abnormal, yang pada gilirannya terkait erat dengan diet dan kurang olahraga. Dalam dunia materialisme yang berkembang pesat saat ini, daging dan lemak berlebih telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari diet. Hal ini, ditambah dengan asupan karbohidrat yang berlebihan, menyebabkan kelebihan kalori, yang dapat dengan mudah menyebabkan obesitas. Obesitas adalah akar penyebab metabolisme glukosa abnormal, resistensi insulin dan metabolisme lipid abnormal. Hal ini, ditambah dengan perkembangan transportasi, telah menyebabkan kurangnya olahraga yang serius, yang dapat meningkatkan tingkat gangguan toleransi glukosa.