Diabetes adalah salah satu penyakit kronis yang paling umum dan paling disalahpahami.
Fredric Kraemer, MD, profesor kedokteran di Stanford University, mengatakan, “Bahkan pasien yang berusaha untuk mendapatkan informasi dapat salah memahami penyakit ini. Karena diabetes sangat umum terjadi, maka penting untuk mengedukasi diri Anda sendiri mengenai hal ini.”
Inilah kebenaran tentang beberapa kesalahpahaman diabetes yang umum.
Mitos 1: Diabetes tipe 1 dan tipe 2 adalah sama
Kebenaran: Kedua jenis ini terkait dengan insulin, tetapi sifat kedua penyakit ini sangat berbeda.
Diabetes tipe 1 adalah penyakit autoimun di mana tubuh berhenti membuat insulin dan lebih sering terjadi pada anak-anak. 5% hingga 10% penderita diabetes memiliki tipe 1 dan membutuhkan suntikan insulin secara teratur untuk mengubah makanan menjadi energi yang dibutuhkan tubuh mereka.
Orang dengan diabetes tipe 2 dapat memproduksi insulin tetapi sel-sel mereka tidak mengambilnya, dan faktor-faktor seperti obesitas dan ketidakaktifan fisik meningkatkan risiko terkena penyakit ini. Diabetes tipe 2 dapat dikelola melalui diet dan olahraga, tetapi sebagian besar orang perlu menggunakan obat-obatan, termasuk insulin.
Mitos 2: Jika Anda menderita diabetes, Anda akan mengetahuinya sendiri
Kebenaran: Gejala yang terkait dengan diabetes termasuk sering buang air kecil, rasa haus yang berlebihan, kelelahan dan penglihatan kabur. Pasien mungkin mengalami beberapa gejala atau tidak ada gejala sama sekali.
Untuk membuat diagnosis diabetes, dokter akan memeriksa kadar glukosa darah puasa di atas 126mg/dL pada dua kesempatan terpisah, yang merupakan indikasi adanya masalah, tetapi tidak cukup tinggi untuk menyebabkan gejala.
Jika Anda berusia di atas 45 tahun, kelebihan berat badan, atau memiliki riwayat keluarga dengan tekanan darah tinggi dan diabetes, Frederick menganjurkan agar orang-orang ini perlu menemui dokter untuk memeriksa apakah mereka menderita diabetes.
Mitos 3: Jika Anda kelebihan berat badan atau obesitas, Anda pasti akan mengembangkan diabetes tipe 2
Kebenaran: Sekitar 69% orang dewasa Amerika kelebihan berat badan, tetapi kurang dari 10% yang menderita diabetes. Menurunkan berat badan dapat mengurangi risiko terkena diabetes. Sebuah studi yang dilakukan oleh National Institutes of Health menunjukkan bahwa orang yang berolahraga 150 menit seminggu dan kehilangan berat badan rata-rata 13,6 pon memiliki risiko 58% lebih rendah terkena diabetes tipe 2.
Mitos 4: Mengkonsumsi terlalu banyak gula dapat menyebabkan diabetes
Kebenaran: Meskipun beberapa penelitian telah mengaitkan keduanya, gula dalam permen dan soda bukanlah masalahnya. Frederick mengatakan, “Diet tinggi gula tidak menyebabkan diabetes pada orang dengan berat badan dan kadar insulin normal.”
Tetapi, makan terlalu banyak makanan manis dapat menyebabkan kenaikan berat badan, yang meningkatkan risiko terkena diabetes.
Mitos 5: Menggunakan insulin berarti Anda tidak mengelola diabetes Anda dengan baik
Kebenaran: Insulin adalah obat yang menyelamatkan nyawa, dan menggunakan insulin tidak berarti pasien kurang baik dalam mengendalikan penyakitnya.
Frederick mengatakan, “Kebutuhan akan suntikan insulin tidak berarti bahwa pengobatan gagal, itu hanya berarti bahwa sel-sel yang membuat dan mengeluarkan insulin tidak bekerja dengan baik.”
Meskipun sebagian orang dengan diabetes tipe 2 dapat mengontrol kadar gula darah mereka melalui diet dan olahraga, namun seiring waktu, tubuh mengurangi jumlah insulin yang diproduksi dan perlu ditambah dengan obat-obatan. Jika Anda menderita diabetes tipe 1, Anda harus menggunakan insulin untuk tetap hidup.
Tanyakan kepada dokter Anda
Apa pengobatan terbaik? Pilihan pengobatan tergantung pada apakah pasien menderita diabetes tipe 1 atau tipe 2 dan riwayat medis pasien di masa lalu.
Perubahan gaya hidup apa yang diperlukan? Tanyakan kepada dokter Anda, apakah diet sehat, olahraga, berhenti merokok dan perubahan gaya hidup lainnya dapat meningkatkan status kesehatan Anda saat ini.
Komplikasi apa yang harus saya ketahui? Diabetes mempengaruhi lebih dari sekedar gula darah dan dapat menyebabkan masalah kesehatan lainnya seperti penyakit jantung, kerusakan saraf dan penglihatan.