Pada awalnya, diperkirakan bahwa pembentukan kantung kelopak mata merupakan hasil dari kelebihan lemak orbita dan kelemahan kulit kelopak mata bagian bawah. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kantung mata terjadi akibat gangguan keseimbangan antara lemak orbita dan struktur pendukung kelopak mata bawah. Struktur pendukung kelopak mata bawah meliputi kulit, otot orbikularis oris, septum orbita, lempeng kelopak mata, dan tendon kantal internal dan eksternal. Orbita adalah rongga berbentuk kerucut yang menampung mata dan pelengkapnya, dengan bukaan anterior yang besar dan ujung posterior yang runcing, dengan struktur tulang pada keempat dindingnya dan bukaan orbita yang ditutupi oleh jaringan lunak. Lemak orbita memiliki kecenderungan untuk mengalami herniasi ke depan karena gravitasi. Pada orang muda dengan jumlah lemak orbita yang normal, kecenderungan ini dihambat oleh struktur penopang kelopak mata bagian bawah yang kuat, sehingga prolaps lemak orbita tidak terjadi. Jika terdapat terlalu banyak lemak orbita atau jika struktur penyangga kelopak mata bawah menjadi lembek seiring bertambahnya usia, maka struktur penyangga tidak cukup untuk menahan herniasi lemak orbita, sehingga timbul kantung. Perubahan pada struktur pendukung kelopak mata bawah meliputi kelemahan/kelemahan kulit, kelemahan/hiperfungsi otot orbikularis okuli, dan kelemahan septum/prolaps lemak orbita. Berkurangnya ketegangan pada struktur pendukung bola mata seiring bertambahnya usia dapat menyebabkan bola mata turun dan juga mendorong herniasi lemak orbita ke depan. Kendurnya jaringan pipi akibat penuaan menyebabkan munculnya tulang pipi, yang juga berkontribusi pada kantong kelopak mata dan kelainan bentuk palung mata. Kesimpulannya, pembentukan kantong kelopak mata merupakan hasil dari kombinasi beberapa faktor dan perubahan struktural pada beberapa lapisan jaringan. Berdasarkan penelitian di atas, sebagian ahli telah mengklasifikasikan kantong kelopak mata ke dalam dua kategori: primer dan sekunder. Yang pertama terutama disebabkan oleh kelebihan lemak orbital bawaan dan hiperfungsi otot orbicularis oculi dan terlihat pada orang muda, yang jumlahnya kurang dari 10% dari populasi; yang kedua terutama disebabkan oleh penuaan dan paling sering terjadi pada orang paruh baya dan orang yang lebih tua di atas usia 40 tahun. Ketika dokter bedah kosmetik menganalisis penyebab dan tingkat keparahan kantong kelopak mata pasien, perhatian harus diberikan pada perubahan yang telah terjadi dari kulit ke struktur penyangga kelopak mata yang dalam. Pada pasien paruh baya dan lebih tua, kelemahan septum orbita/herniasi lemak orbita dan kelainan bentuk palung air mata merupakan masalah terbesar.