Mengapa pengobatan dini penting untuk leukoplakia vulvae

  Lesi putih pada vulva termasuk lesi putih pada vulva, leukoplakia vulva, atau distrofi vulva, yang sebelumnya dianggap sebagai distrofi vaskular, tetapi dengan pemahaman lebih lanjut mengenai penyakit ini, perubahan ini tidak ditemukan, melainkan lesi pigmentasi dan degenerasi pada kulit vulva dan jaringan mukosa. Karena warna putih pada kulit vulva dan selaput lendir pada pasien dengan sclerosing moss dan hiperplasia epitel skuamosa, maka disebut sebagai lesi vulva putih, yang merupakan perubahan non-neoplastik di dalam epitel vulva. Sclerosing moss dan hiperplasia sel epitel skuamosa telah berganti nama beberapa kali di era yang berbeda karena pemahaman klinis dan patologis yang berbeda. Pada tahun 1975, International Society for the Study of Vulvar Diseases (ISSVD) menyebutnya secara kolektif sebagai “distrofi vulva kronis” karena nama penyakit yang membingungkan. Dalam beberapa tahun terakhir, pemahaman tentang lesi non-neoplastik intraepitel pada vulva telah meningkat dan fakta bahwa tidak ada kelainan neurotropik vaskular yang pasti yang ditemukan pada jaringan lesi vulva telah membuat ISSVD mendiskusikan dan mengembangkan klasifikasi baru dermatosis vulva dengan International Society of Gynecologic Pathologists (ISGYP) pada tahun 1987.  Meskipun insiden karsinoma (kebanyakan karsinoma sel skuamosa) pada wanita dengan sclerosing moss (umumnya dikenal sebagai leukoplakia vulvae) rendah, umumnya kurang dari 5% menurut literatur internasional, namun tetap menimbulkan kekhawatiran bagi pasien. Namun, hal ini masih menjadi perhatian bagi pasien. Baru-baru ini, jurnal dermatologi internasional terkemuka
JAMA Dermatology
menerbitkan sebuah ulasan oleh Cooper, seorang ahli internasional terkemuka tentang lumut sklerosis wanita, dari Departemen Dermatologi di Rumah Sakit Universitas Oxford. Judul ulasan tersebut adalah: Pengobatan yang cepat dan memadai untuk lumut sklerosis wanita mengurangi risiko karsinoma sel skuamosa. Dalam ulasan tersebut, penulis menekankan pentingnya pengobatan yang cepat dan memadai untuk sclerosing moss pada wanita. Dalam tinjauan tersebut, penulis membuat poin-poin yang sangat penting sebagai berikut: 1. Penyakit ini perlu didiagnosis dan diobati secara dini 2. Penyakit ini perlu diobati secara dini  3. Penyakit ini membutuhkan tindak lanjut jangka panjang. 4. Bahkan tanpa adanya gejala, tindak lanjut tetap diperlukan, meskipun pengobatan bersifat intermiten. 5. Hormon topikal tetap menjadi andalan pengobatan untuk penyakit ini, dan pilihan kekuatan hormon topikal disesuaikan dengan kondisinya.  Di akhir artikel, penulis menekankan bahwa mengubah kesadaran pasien, menyediakan metode yang mudah diakses, menawarkan saran yang baik kepada pasien, selalu dapat memberikan bantuan kepada pasien, dan kepatuhan pasien yang baik adalah beberapa faktor yang paling penting dalam pengobatan penyakit ini dan dalam pencegahan perkembangan kanker.