Patah tulang bisa sangat merepotkan bagi orang dewasa dan anak-anak. Untuk bayi, karena mereka masih terlalu kecil dan sangat ingin tahu tentang dunia luar, mereka pada dasarnya membutuhkan orang tua untuk menjaganya setiap saat. Namun, bayi mudah terbentur karena tulangnya belum tumbuh sempurna, dan terkadang mereka langsung terbentur hidung saat kakinya lemah, lalu bagaimana cara menilai apakah hidung bayi patah atau tidak? Anda dapat menilai berdasarkan manifestasi klinis berikut ini: (1) Mimisan: sebagian besar patah tulang hidung akan mengalami robekan pada selaput lendir rongga hidung dan keluarnya darah dari hidung dalam jumlah yang banyak. (2) Kelainan bentuk lokal: ketika kekerasan yang menyebabkan patah tulang hidung berasal dari satu sisi, tulang hidung di sisi yang sama akan cekung, dan sisi yang berlawanan akan ditinggikan, yang akan menjadi kelainan bentuk hidung bengkok, dan kekerasan frontal sering kali akan menyebabkan kedua sisi tulang hidung retak, yang akan menyebabkan runtuhnya jembatan hidung dan pembentukan kelainan bentuk seperti pelana. (3) Fraktur hidung yang disertai dengan dislokasi septum hidung dapat dilihat pada fenomena terpaparnya septum hidung atau tulang rawan di rongga hidung. (4) Kelembutan dan suara gesekan tulang: rasa sakit setelah patah tulang hidung tidak tajam, tetapi lokasi patah tulang terlihat jelas kelembutannya, dan suara gesekan tulang sering kali dapat disentuh. (5) Petekie pada kelopak mata: petekie dapat muncul setelah patah tulang hidung karena perdarahan intra jaringan ke dalam kelopak mata bilateral dan di bawah konjungtiva. (6) Dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan CT atau MRI, yang dapat dengan jelas mengamati lokasi dan derajat fraktur tulang hidung, serta apakah ada fraktur pada septum hidung.