Olmesartan dapat berbahaya bagi pasien dengan gagal jantung hipertensi

  Pada pasien gagal jantung kronis hipertensi (CHF) yang menerima pengobatan berbasis bukti, penambahan terapi olmesartan gagal meningkatkan regresi klinis dan malah memperburuk fungsi ginjal, terutama ketika kombinasi olmesartan, penghambat enzim pengubah renin angiotensin (ACEI) dan beta-blocker dikaitkan dengan peningkatan kejadian jantung yang merugikan, sebuah penelitian di Jepang menunjukkan. Makalah ini diterbitkan secara online pada 31 Januari di European Heart Journal (Eur Heart J).  Sebanyak 1147 pasien hipertensi dengan CHF bergejala dimasukkan dalam penelitian prospektif, acak, label terbuka ini dan diacak untuk menambahkan olmesartan (578 pasien) atau mempertahankan pengobatan asli (569 pasien) ke terapi awal. Titik akhir primer terdiri dari kematian semua penyebab, serangan jantung non-fatal, stroke non-fatal dan rawat inap untuk eksaserbasi gagal jantung. Median waktu tindak lanjut adalah 4,4 tahun. Usia rata-rata pasien adalah 66 tahun dan 75% adalah laki-laki.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa titik akhir primer terjadi pada 192 (33,2%) dan 166 (29,2%) kasus pada kelompok olmesartan dan kelompok kontrol, masing-masing (hazard ratio [HR] 1,18; P=0,112), dan bahwa kejadian insufisiensi ginjal lebih tinggi pada kelompok olmesartan (16,8% versus 10,7%, HR 1,64; P=0,003). Analisis subkelompok menunjukkan bahwa penambahan olmesartan ke ACEI dan beta blocker dikaitkan dengan peningkatan kejadian titik akhir primer (38,1% berbanding 28,2%, HR 1,47), semua penyebab kematian (19,4% berbanding 13,5%, HR 1,50) dan insufisiensi ginjal (21,1% berbanding 12,5%, HR 1,85).