Rehabilitasi poliomielitis

  Tujuan utama pelatihan rehabilitasi adalah untuk memulihkan atau mengkompensasi fungsi motorik yang hilang pada pasien anestesi pediatrik, sehingga meningkatkan kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari pada tungkai atas serta fungsi berdiri dan berjalan pada tungkai bawah, agar dapat melakukan perawatan diri sendiri dan kembali ke masyarakat sesegera mungkin. Elemen utama dari latihan rutin adalah penguatan otot, perluasan rentang gerak sendi, fabrikasi dan penggunaan ortotik. Pelatihan rehabilitasi paling baik dilakukan di bawah pengawasan medis. Secara umum, hal-hal berikut ini harus diperhatikan: 1. Kuasai skala, jumlah dan metode pelatihan yang sesuai. Pelatihan yang tidak memadai tidak akan memberikan efek yang jelas, sementara pelatihan yang terlalu banyak dapat menyebabkan kerusakan pada anggota tubuh, misalnya ketegangan otot, pembengkakan sendi, dislokasi patah tulang, dll. Oleh karena itu, skala harus dikuasai dan jumlah latihan harus sesuai.  2. Latihan harus dilakukan selangkah demi selangkah, jangan terlalu cepat. Jumlah aktivitas harus dikurangi menjadi lebih banyak, rentang gerakan sendi dari kecil ke besar, dan gaya yang digunakan dari ringan ke berat. Volume latihan harus ditingkatkan secara bertahap untuk mendapatkan hasil yang baik.  3. Latihan apa pun tidak boleh menyebabkan rasa sakit yang signifikan. Kadang-kadang rasa sakit ringan dapat terjadi selama latihan, tetapi setelah menghentikan aktivitas, rasa sakit akan hilang. Jika rasa sakit yang parah terjadi selama latihan dan tidak hilang setelah istirahat, ini sering kali merupakan tanda cedera dan latihan harus dihentikan. Jika rasa sakitnya parah setelah latihan, atau bahkan bengkak di tungkai bawah, ini menunjukkan latihan yang berlebihan dan juga harus dihentikan sementara.  4, latihan tidak boleh merasa kelelahan. Jika Anda merasa kelelahan, Anda harus beristirahat selama 5 hingga 10 menit sebelum latihan untuk menghindari cedera yang disebabkan oleh kelelahan.