Mengapa penis bisa menjadi keras?

Struktur penis sangat halus dan terdiri dari tiga pilar, dengan dua pilar berdampingan di sisi dorsal yang disebut corpus cavernosum; bagian dalamnya terdiri dari rongga-rongga kecil seperti spons, oleh karena itu disebut corpus cavernosum. Rongga-rongga kecil tersebut memiliki struktur yang mirip dengan pembuluh darah kecil. Kedua corpus cavernosum pada gilirannya dikelilingi oleh selaput putih yang kuat, membentuk keseluruhan yang fungsional dan koheren. Bagian ventral disebut korpus kavernosum uretra, yang dilalui oleh uretra. Korpus kavernosum sebenarnya adalah pembuluh darah yang khusus dan halus. Ketika rongga-rongga korpus kavernosum penis terisi dengan darah selama gairah seksual, tekanannya meningkat, seperti tabung kulit yang terisi air bertekanan tinggi, dan penis menjadi lebih tebal dan semakin keras. Sebaliknya penis menjadi lebih tipis dan lebih lembut. Ereksi penis melibatkan proses psikologis dan fisiologis yang kompleks, yang berarti dikendalikan oleh otak. Ketika ada hasrat seksual, saraf melepaskan zat khusus yang bekerja pada tubuh gua penis, menyebabkan rongga gua mengembang, darah arteri masuk ke tubuh gua dalam jumlah besar dan penis mengeras. Pada saat yang sama, pernapasan dan detak jantung meningkat dan seluruh proses inilah yang akan mempersiapkan penis untuk melakukan hubungan seksual. Selanjutnya, dengan adanya kontak dan rangsangan dari pria dan wanita, gairah akan semakin meningkat dan pelepasan zat-zat akan semakin meningkat, sehingga memastikan bahwa penis dapat mempertahankan kekerasan yang baik. Oleh karena itu, ereksi yang baik pada pria harus memiliki syarat-syarat sebagai berikut: 1. kondisi mental dan psikologis yang baik; 2. fungsi pembuluh darah yang baik; 3. korpus kavernosum penis itu sendiri harus normal secara struktural dan fungsional. 4. fungsi saraf yang normal. Dapat dilihat bahwa kekerasan ereksi penis merupakan indikator obyektif dari baik atau buruknya kesehatan secara keseluruhan.