Sejarah penggunaan panas dalam pengobatan tumor Penggunaan panas dalam pengobatan tumor dapat ditelusuri kembali ke tahun 5000 SM, ketika seorang dokter Mesir kuno bernama Edwin Sminth mencatat dalam sebuah manuskrip bahwa ia telah menggunakan panas untuk mengobati tumor payudara. Pada tahun 1866, seorang dokter bernama Busch menemukan bahwa seorang pasien dengan sarkoma jaringan lunak pada wajah mengalami demam 40°C dan tumornya secara ajaib mereda setelah tertular dermatitis. Terapi panas untuk tumor berkembang pesat pada abad ke-20. Untuk memverifikasi kemanjuran pengobatan panas untuk tumor, Amerika Serikat mengorganisir sejumlah rumah sakit di Cina untuk mengamati ribuan pasien dari tahun 1977 hingga 1983, dan akhirnya mencapai hasil yang baik. Hasilnya, FDA (Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat) menyetujui penggunaan terapi panas untuk pengobatan tumor pada tahun 1985. Saat ini, banyak negara seperti Amerika Serikat, Cina, Jepang, dan Perancis telah memproduksi dan menggunakan terapi panas secara klinis selama bertahun-tahun. Namun, ada perbedaan penting antara mesin terapi panas yang digunakan untuk pengobatan tumor dan “fisioterapi” dan “terapi panas” yang digunakan untuk penyakit jinak, yang tidak boleh disamakan satu sama lain! Mengapa terapi panas frekuensi radio dapat mengobati tumor? Pembuluh darah pada jaringan tumor memiliki karakteristik sebagai berikut: (1) struktur pembuluh darah yang kasar dan tidak teratur, berliku-liku dan bengkok; (2) pembuluh darah kecil tanpa lapisan otot, tidak memiliki elastisitas dan mudah pecah; (3) pembuluh darah kapiler yang sebenarnya merupakan celah seperti sinus darah, yang biasanya dalam keadaan terbuka. Oleh karena itu, laju aliran darah tumor lambat dan rendah, biasanya hanya 10% dari jaringan normal, dan tidak mudah untuk menghilangkan panas, sehingga suhu setelah pemanasan bisa 5-10 derajat lebih tinggi dari jaringan normal. Ketika suhu jaringan tumor naik ke suhu pengobatan yang efektif dan dipertahankan untuk jangka waktu tertentu, hal ini menyebabkan pertumbuhan sel tumor terhambat dan mati, sementara tidak ada kerusakan yang jelas dan efek samping pada sel jaringan normal. Terapi panas juga dapat meningkatkan fungsi kekebalan tubuh. Dikombinasikan dengan radioterapi dan kemoterapi, terapi ini dapat memberikan efek sinergis yang sangat baik.