Apa yang harus dilakukan jika anak Anda mengalami kesulitan makan

  ”Kebutuhan dasar untuk bertahan hidup adalah makan. Namun, pada anak-anak, masalah makan atau menelan dapat terjadi karena berbagai faktor yang mengganggu tumbuh kembangnya, dan penting bagi orang tua untuk mengenali dan mengatasi masalah ini.
Gangguan makan dan menelan dapat dipahami sebagai kelainan pada aspek emosional, kognitif, sensorik dan/atau motorik serta aspek anatomis dari proses perpindahan zat dari mulut ke lambung, yang mengakibatkan gangguan pada proses tersebut, termasuk gangguan makan dan menelan.
Proses makan dan menelan pada orang normal dibagi menjadi beberapa proses sebagai berikut:
1. Pra-mulut, di mana seseorang melihat makanan melalui penglihatan dan penciuman dan membawanya ke mulut dengan menggunakan peralatan, cangkir atau jari.
2. Periode Persiapan Oral Ini mengacu pada proses dari masuknya makanan ke dalam mulut hingga selesainya mengunyah, dan merupakan tahap persiapan untuk menelan.
3. Fase Oral Mengacu pada proses singkat pengiriman massa makanan yang terbentuk dari hasil pengunyahan ke dalam faring.
4. Tahap faring Tahap ketika massa makanan dipindahkan dari faring ke kerongkongan melalui gerakan refleks.
5. Tahap esofagus Massa makanan masuk ke kerongkongan melalui otot krikofaring dan diangkut ke lambung melalui gerakan peristaltik esofagus. Untuk anak-anak yang mengalami kesulitan makan, orang tua harus merawat mereka dengan baik dengan cara-cara berikut:
(a) Posisi dan postur tubuh
Penting untuk mengembangkan kebiasaan makan yang baik. Yang terbaik adalah makan secara teratur dan terukur, duduk daripada berbaring jika memungkinkan, dan makan di meja daripada di samping tempat tidur. Untuk pasien yang tidak bisa duduk, biasanya dibawa dengan posisi setengah duduk dengan kepala ditekuk ke depan. <(ii) Sifat dan konsistensi makanan
Menurut sifat makanan, makanan umumnya diklasifikasikan ke dalam tiga kategori, yaitu, cair seperti air, jus, dll.; semi-cair seperti sup nasi, sup, dll., pasta seperti pasta beras, pasta wijen, dll.; semi-padat seperti nasi lunak, padat seperti biskuit, kacang-kacangan, dll. Sifat makanan harus dipilih sesuai dengan tingkat dan tahap gangguan menelan, berdasarkan prinsip mudah terlebih dahulu baru kemudian sulit. Makanan yang mudah ditelan ditandai dengan kepadatan yang seragam, kekentalan yang sesuai, tidak mudah mengendur, mudah berubah bentuk ketika melewati faring dan kerongkongan dan jarang tertinggal di selaput lendir.
(iii) Posisi massa makanan di dalam mulut
Saat makan, makanan harus ditempatkan di dalam mulut di tempat yang paling enak untuk dirasakan dan di tempat yang paling baik untuk memfasilitasi retensi dan transportasi makanan di dalam mulut. Yang terbaik adalah menempatkan makanan di bagian belakang lidah atau di pipi bagian samping untuk memudahkan menelan makanan.
(iv) Mengingatkan saat makan
Mengingatkan saat makan untuk memudahkan menelan dan membantu mengurangi risiko aspirasi.
(v) Lingkungan makan
Penting bagi pasien disfagia untuk makan di lingkungan yang tenang untuk menghindari gangguan.