Keracunan karbon monoksida banyak terjadi pada musim dingin dan dapat menyebabkan kerusakan pada sistem pusat atau kerusakan permanen. Pertolongan pertama terutama mencakup keluar dari lingkungan keracunan, memperbaiki hipoksia, dan mencegah edema otak: 1. Keluar dari lingkungan keracunan: Ketika keracunan karbon monoksida terjadi, segera buka pintu dan jendela, atau segera pindahkan pasien ke udara segar, keluar dari lingkungan keracunan karbon monoksida, hentikan menghirup karbon monoksida, dan hubungi nomor darurat. Lepaskan kerah dan sabuk, jaga agar tetap hangat dan jaga agar jalan napas tetap terbuka. Jika terjadi henti napas, resusitasi jantung-paru harus segera dilakukan. 2. Perbaiki kekurangan oksigen: keracunan karbon monoksida akan membentuk karboksihemoglobin dalam tubuh, yang memengaruhi kemampuan hemoglobin untuk membawa oksigen, yang kemudian memengaruhi suplai oksigen tubuh. Perawatan ruang oksigen hiperbarik dapat meningkatkan disosiasi karboksihaemoglobin dengan cepat, mempercepat pembersihan karbon monoksida, mengurangi tingkat kematian dan memperpendek perjalanan penyakit, serta mengurangi atau mencegah terjadinya ensefalopati yang tertunda. Selain itu, jika terjadi henti napas, intubasi trakea dan ventilasi mekanis dengan oksigen murni harus dilakukan. 3. Pencegahan dan pengendalian edema serebral: edema serebral dapat terjadi dalam 2-4 jam pada keracunan karbon monoksida akut, mencapai puncaknya dalam 24-48 jam dan dapat berlangsung selama berhari-hari. Pasien dapat diberikan infus manitol intravena yang cepat atau menggunakan diuretik untuk meredakan gejala di bawah bimbingan profesional medis. Selain itu, hormon adrenokortikotropik dapat mengurangi respons stres tubuh dan membantu meringankan oedema serebral. 4. Mempromosikan pemulihan fungsi sel otak: Vitamin B, sitokrom C, koenzim A, dan sitidilkolin dapat ditambahkan secara tepat. 5. Mencegah dan mengendalikan komplikasi: Pasien perlu memperkuat asuhan keperawatan selama koma, menjaga agar saluran pernapasan tidak terhalang dan mencegah terjadinya infeksi paru-paru dan luka tekan.