Gangguan mental secara umum didefinisikan sebagai kelainan pada persepsi, emosi, pemikiran dan kehendak pasien. Namun, untuk menentukan apakah seseorang memiliki gangguan mental, kita harus menganalisis situasi dari tiga aspek: 1. kita harus membuat perbandingan longitudinal, misalnya, kita harus membandingkan dengan kinerja masa lalu pasien untuk melihat apakah ada perubahan yang signifikan dalam keadaan mental dan perilaku masa lalunya. 2. kita harus membuat perbandingan horizontal, yaitu, kita harus membandingkan dengan keadaan mental kebanyakan orang normal untuk melihat apakah ada perbedaan yang signifikan dalam waktu, apakah perbedaannya melampaui batas tertentu, dan apakah perbedaannya jelas. Misalnya, kebanyakan orang yang percaya pada agama Kristen percaya bahwa Tuhan ada di dalam hati mereka dan bahwa mereka dapat merasakan kehadiran Tuhan setiap saat, sehingga orang semacam ini tidak dapat dikatakan abnormal. Misalnya, jika pasien sedang dirawat secara abnormal, dan pasien marah, berteriak, atau bersemangat, pasien tidak dapat dikatakan abnormal. Oleh karena itu, untuk menentukan apakah ada gangguan mental, analisis yang komprehensif harus dilakukan untuk menghindari subjektivitas dan berat sebelah.