Ketika pria mencapai usia paruh baya, kekuatan fisik dan energi mereka menurun dan mereka tidak begitu antusias dengan seks seperti saat mereka masih muda. Kebanyakan orang mengaitkan fenomena ini dengan meningkatnya stres dalam hidup mereka, penurunan kebugaran fisik, atau hubungan antara pasangan. Memang benar bahwa semua kondisi ini dapat berdampak pada seks, tetapi mereka juga melewatkan poin bahwa obesitas juga merupakan faktor penting dalam kehidupan seks. Sel-sel lemak juga merupakan sel yang mengeluarkan hormon dan memiliki efek pada hormon-hormon lainnya. Ketika pria mengalami obesitas, tubuh mereka memproduksi lebih banyak estrogen, menyebabkan mereka mengembangkan ciri-ciri feminin, seperti payudara yang lebih besar daripada pria dengan berat badan normal, dan memiliki efek pada suasana hati mereka. Penelitian telah menunjukkan bahwa libido pria sangat terkait dengan jumlah androgen dalam darah mereka, sehingga ketika produksi estrogen meningkat dan androgen menurun, libido mereka juga akan menurun. Obesitas juga menyebabkan produksi testosteron yang lebih rendah dan peningkatan produksi estradiol, yang menyebabkan disfungsi ereksi. Dan kelebihan lemak di dekat testis dapat menyebabkan peningkatan suhu skrotum, yang secara langsung memengaruhi kemampuan testis untuk memproduksi sperma, dan tingkat motilitas sperma akan menurun, yang secara serius dapat menyebabkan kemandulan. Saat ini, banyak pria paruh baya yang menghadapi ancaman obesitas, yang akan menjadi semakin nyata dengan meningkatnya tekanan hidup. Efek obesitas pada tubuh jauh melampaui seksualitas, karena banyak penyakit kronis dan kanker seperti diabetes terkait dengan obesitas, sehingga penting untuk mencegah obesitas atau menurunkan berat badan secara tepat waktu, kapan pun waktunya.