Apakah tumor dapat ditularkan?

Pertanyaan ini sering ditanyakan oleh pasien kanker atau keluarga mereka, dan selama bertahun-tahun, para dokter medis percaya bahwa kanker pada manusia tidak menular. Beberapa infeksi virus yang terkait dengan perkembangan kanker (virus papiloma manusia, virus hepatitis B, EBV, dll.) telah dikaitkan dengan perkembangan kanker serviks, kanker hati, kanker nasofaring, dan limfoma, tetapi sejauh ini tidak ada bukti bahwa kanker ini dapat ditularkan secara langsung ke orang lain. Insiden kanker di antara tenaga medis yang bekerja di bidang onkologi tidak ditemukan lebih tinggi daripada orang yang bekerja di bidang lain. Investigasi epidemiologi telah menemukan bahwa beberapa kanker berhubungan dengan penularan serangga. Sebagai contoh, terdapat prevalensi infeksi EBV yang tinggi pada anak-anak Afrika yang menderita limfoma Burkitt, dan distribusi tumor konsisten dengan daerah endemik malaria, dengan nyamuk yang diduga bertindak sebagai vektor untuk kedua penyakit tersebut. Antigen atau antibodi virus dapat ditemukan pada beberapa pasien kanker. Sebagai contoh, virus herpes simpleks tipe B dapat dideteksi pada 80 persen pasien kanker serviks, dan antibodi terhadap EBV dapat dideteksi pada 70 hingga 90 persen pasien karsinoma nasofaring. Semua contoh di atas menunjukkan bahwa terjadinya kanker sangat erat kaitannya dengan infeksi virus, tetapi tidak ada bukti yang cukup untuk menunjukkan bahwa kanker ini secara langsung ditularkan oleh infeksi virus. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa tidak banyak jenis virus onkogenik yang terkait dengan tumor manusia. Karena jenis virus yang berbeda, mereka diintegrasikan ke dalam genom (urutan DNA) sel manusia melalui mekanisme transduksi atau penyisipan RNA virus, atau melalui integrasi DNA virus ke dalam genom sel manusia, yang mengarah pada aktivasi proto-onkogen dan / atau inaktivasi onkogen, yang mengarah pada transformasi sel dan proliferasi berkelanjutan, dan dengan demikian pembentukan tumor.