(Penafian: Artikel ini hanya untuk penggunaan ilmiah secara umum dan informasi dalam konten berikut ini telah diproses untuk melindungi privasi pasien)
Abstrak: Ptosis kongenital adalah suatu kondisi di mana otot levator kelopak mata atas tidak berfungsi secara memadai karena beberapa faktor genetik dan perkembangan, yang menyebabkan kelopak mata atas tidak dapat membuka secara sepihak dan kornea mata tertutup. Seorang anak laki-laki berusia lima tahun dengan postur tatapan mata tertentu akibat kelopak mata yang terkulai ditemukan di klinik rawat jalan dan jika tidak diobati, hal ini dapat memengaruhi perkembangan visual anak tersebut. Setelah masuk, ptosis pada sisi yang terkena dampak dikoreksi melalui pembedahan dan anak tersebut memperoleh perbaikan yang signifikan pada kelopak mata atasnya setelah pembedahan.
Informasi dasar】Laki-laki, 5 tahun
Jenis Penyakit】 Ptosis Bawaan
Rumah Sakit】Rumah Sakit Bedah Plastik Akademi Ilmu Kedokteran China
Tanggal Konsultasi】 November 2021
Pilihan perawatan】 Perawatan bedah (suspensi flap depan)
Masa Perawatan】3 hari perawatan rawat inap dan tindak lanjut pasca operasi
Hasil】Peningkatan signifikan pada penutup kelopak mata bagian atas dan pelepasan yang berhasil
I. Konsultasi awal
Anak tersebut adalah seorang anak laki-laki berusia 5 tahun yang terlahir dengan kesulitan membuka kelopak mata kanan atas, yang secara bertahap terbuka sedikit demi sedikit. Keluarga anak tersebut mengeluhkan kepala yang miring setiap hari, kepala yang miring, garis depan yang meningkat, dan tampilan kelopak mata atas yang tidak simetris secara bilateral. Pada pemeriksaan, tidak ada tanda-tanda trauma atau pembedahan yang jelas di sekitar mata secara bilateral, dan ketajaman penglihatan bilateral cukup baik. Anak melihat dengan posisi kepala miring, dengan peningkatan garis frontal pada sisi kanan (yang terkena), kelopak mata bagian atas yang menutupi 1/2 kornea, dan jarak alis dengan kornea yang meningkat. Motilitas kelopak mata atas adalah 3-4 mm di sisi kanan dan 7-8 mm di sisi kiri, dengan gerakan bola mata ke atas yang signifikan secara bilateral saat mata tertutup (tanda Bell positif). Tidak ada temuan abnormal lainnya pada pemeriksaan fisik dasar. Keluarga pasien mengeluhkan kasus serupa pada kerabat ibu, yang tidak diketahui secara rinci. Diagnosis ptosis kongenital yang parah di sisi kanan dan ptosis kongenital yang parah di sisi kiri dibuat. Anak tersebut direkomendasikan untuk menjalani perawatan bedah.
II. Riwayat pengobatan
Sebelum koreksi bedah, kami menjelaskan kepada keluarga secara rinci bahwa ptosis terjadi secara bilateral, dengan derajat yang tidak merata di kedua sisi, tetapi pilihan terbaik saat ini adalah memperbaiki ptosis yang lebih parah di satu sisi terlebih dahulu dan menyesuaikan sisi lainnya pada tahap selanjutnya yang sesuai, dan keluarga mengerti. Sebelum operasi, tinggi bukaan mata anak ditandai pada pangkal hidung dan sayatan melintang dibuat pada ketinggian 3mm dari batas kelopak mata, diikuti dengan pemisahan sepanjang permukaan dalam otot orbikularis oris menuju alis ke arah tepi orbita, dengan hati-hati untuk menghindari bundel neurovaskular supraorbital yang dangkal ke foramen supraorbital. Flap frontalis yang sudah disiapkan kemudian dijahit ke kelopak mata pada posisi yang sesuai. Ketika anak terbangun dari anestesi, pembukaan mata anak diperiksa dan ditemukan mendekati hasil yang diharapkan, dengan paparan kornea yang sama pada kedua sisi dan sedikit elevasi pada sisi yang telah menjalani operasi.
III. Hasil pengobatan
Pemulihan anak ini berlangsung cepat, dengan perbaikan yang signifikan pada penampilan dan pembukaan mata. Mobilitas kelopak mata bagian atas membaik hingga 6mm, perbedaan paparan kornea antara kedua sisi berkurang hingga hampir sama, serta pengangkatan kepala dan penglihatan yang menyimpang menghilang. Meskipun ada ketakutan sebelum operasi akan peningkatan ptosis sisi kiri seperti yang diharapkan, namun paparan kornea pada kedua sisi kurang lebih sama (jarak MRD1 kurang dari 1 mm) dan tidak ada sisi yang mengaburkan lapang pandang, sehingga kemungkinan besar anak tersebut tidak memerlukan operasi lebih lanjut dan dapat dipulangkan setelah 3 hari di rumah sakit.
IV. Tindakan Pencegahan
Meskipun ptosis telah membaik, keluarga anak harus disarankan untuk memantau paparan kornea anak saat tidur setelah keluar dari rumah sakit, karena ada risiko ulserasi kornea kering jika terlalu banyak terpapar, dan salep mata eritromisin dalam jumlah kecil harus dioleskan setelah tidur. Pada saat yang sama, perlu untuk meninjau penglihatan di departemen oftalmologi dan memperhatikan perubahan postur tubuh anak ketika melihat sesuatu untuk menghindari pembentukan kebiasaan melihat sesuatu dengan kepala dimiringkan atau dimiringkan dalam waktu yang lama.
V. Wawasan pribadi
Dalam kasus ini, pasien terlahir dengan ptosis kongenital dan memiliki riwayat keluarga dengan kondisi tersebut, sehingga orang tua pasien datang menemui dokter bedah segera setelah mereka menyadari adanya kelainan tersebut. Penting juga untuk diperhatikan bahwa perawatan bedah pada kelompok anak ini harus dilakukan dengan sangat hati-hati, dan dokter bedah harus menyadari bahwa operasi apa pun dapat memengaruhi perkembangan di masa depan, serta harus menerapkan pendekatan yang konservatif dan bijaksana jika memungkinkan. Namun demikian, dalam menghadapi kesulitan, Anda juga perlu menantangnya tanpa ragu-ragu untuk mencapai peningkatan yang sebesar mungkin. Secara keseluruhan, inilah yang sering disebut sebagai “berani dan hati-hati”.