Kehebatan seorang wanita terletak pada kenyataan bahwa ia melahirkan suatu kaum. Dalam hal ini, wanita memiliki rasa dedikasi yang lebih besar daripada pria. Namun, bagaimanapun juga, kehamilan adalah aktivitas fisiologis khusus yang membutuhkan metabolisme energi yang kuat dan sistem regenerasi darah dalam organisme serta fungsi kompensasi yang kuat dari jantung, paru-paru dan hati untuk mendukung konsepsi kehidupan baru yang kuat. Seorang ibu yang menderita leukemia berada dalam keadaan penipisan metabolisme yang konstan, dan dengan efek toksik obat kemoterapi pada jantung, hati, ginjal, lambung dan usus, sulit bagi organismenya untuk menanggung beban konsepsi. Bahkan, jika kehamilan dapat dihindari secara sempit, leukemia masih mengancam kehidupan ibu dan anak selama persalinan, karena kecenderungannya untuk infeksi dan pendarahan. Bagi janin, embrio adalah tunas bibit yang tidak bisa tumbuh sehat tanpa ‘tanah’ yang subur dan sinar matahari. Pada ibu yang menderita leukemia, embrio secara konstan bersaing dengan sel leukemia untuk mendapatkan nutrisi dan menjadi sasaran serangan oleh sel leukemia dan obat kemoterapi. Pertumbuhan mereka sangat lambat, dan dalam beberapa kasus, mereka cacat, menderita leukemia kongenital, atau mati. Oleh karena itu, untuk mengupayakan remisi terapeutik bagi pasien leukemia, demi kesehatan keluarga dan harapan bangsa, sebaiknya pasien leukemia tidak memilih kehamilan.