Dapatkah “sperma buatan” digunakan dalam kehidupan normal?

Para peneliti Jepang telah berhasil mengubah sel punca pluripoten yang diinduksi embrionik dari tikus laboratorium menjadi sperma yang sehat, dan pada akhirnya menghasilkan tikus yang sehat dan mampu bereproduksi, yang diharapkan dapat menjadi anugerah bagi infertilitas pria. Profesor Universitas Kyoto Jepang Tomonori Saito dan yang lainnya mengatakan dalam jurnal “Cell” versi online Amerika Serikat, mereka akan mengeksperimentalkan sel punca embrionik tikus menjadi sel kuman primitif, ditanamkan dalam tubuh tikus percobaan yang tidak dapat menghasilkan sperma secara normal, sel kuman primitif tersebut mulai menghasilkan bentuk sperma yang normal, dan dapat membuat pembuahan sel telur. Sel telur yang telah dibuahi yang ditanamkan melahirkan keturunan yang sehat dan berkembang secara normal, baik jantan maupun betina, dengan kemampuan untuk bereproduksi. Profesor Tomonori Saito, yang memimpin penelitian ini, percaya bahwa proses yang sama dapat dilakukan dengan menggunakan sel punca pluripoten yang diinduksi yang diambil dari kulit. Dr Jane Stewart, seorang ginekolog Inggris, mengatakan bahwa teknik menumbuhkan gamet (sel telur atau sperma) atau sel germinal gamet di laboratorium merupakan “tonggak sejarah dalam bidang penelitian masalah kesuburan dan perawatan terkait”. Alan Percy, profesor ilmu pengetahuan pria di University of Sheffield di Inggris, mengatakan bahwa (temuan) ini “sangat penting bagi pemahaman kita tentang bagaimana sperma diproduksi, dan mungkin suatu hari nanti kita dapat menggunakan teknik ini untuk mengembangkan sperma manusia”. Pada saat yang sama, ia juga mengatakan bahwa banyak peneliti telah mencoba menggunakan sel punca untuk menciptakan kembali proses produksi sperma di laboratorium, tetapi sejauh ini belum ada penelitian yang berhasil dengan sempurna. Penelitian penggunaan sel punca untuk memproduksi “sperma buatan” memiliki sejarah yang panjang. Pada awal tahun 2003, beberapa kelompok peneliti mengklaim telah menciptakan “sperma buatan”, tetapi upaya untuk menghamili tikus laboratorium berakhir dengan kegagalan. 2006, sebuah kelompok peneliti di University of Newcastle, Inggris, menggunakan sel punca embrionik untuk membuat “sperma buatan” dan membiakkan tujuh ekor tikus. Pada tahun 2006, sebuah tim peneliti di University of Newcastle upon Tyne menggunakan sel punca embrionik untuk membuat “sperma buatan” dan mengembangbiakkan tujuh ekor tikus, tetapi ketujuh tikus tersebut mengalami masalah kesehatan dan mati sebelum waktunya. Beberapa ilmuwan sangat senang dengan berita keberhasilan pengembangan “sperma buatan” dan menyebutnya sebagai terobosan besar. Namun, beberapa ilmuwan mengatakan bahwa masih ada sejumlah tantangan teknis dan etika yang harus diatasi sebelum teknologi ini dapat diterapkan pada manusia.