Kemajuan Baru dalam Ortopedi Trauma 2014 Klavikula dan Humerus

  Klavikula dan humerus.

  Pelat Klavikula.

  METODE: Sebuah studi kohort retrospektif membandingkan pelat rekonstruksi inferior anterior 2,7 mm (n=19) dan 3,5 mm (n=18) untuk fraktur batang klavikula (AO/OTA tipe B).

  Hasil: Tidak ada perbedaan dalam skor hasil, waktu penyembuhan, tingkat penyembuhan, atau tingkat operasi sekunder. Pelat berpotongan rendah 2,7 mm lebih dapat diterima secara estetika.

  POIN UTAMA: Penggunaan pelat rekonstruksi anterior inferior 2,7 mm untuk fraktur klavikula adalah solusi yang masuk akal dan efektif. Kehati-hatian tetap diperlukan apabila menggunakannya untuk fraktur kominutif. Hanya ada tiga fraktur kominutif dalam penelitian ini dan pelat 2,7mm yang digunakan dalam mode bridging mungkin tidak memiliki ketahanan lelah yang memadai.

  Batang humerus: paku intramedulla vs pelat METODE: Sebuah studi perbandingan kasus retrospektif menggunakan data asuransi dari tahun 1993 hingga 2007 untuk menilai penggunaan perawatan paku intramedulla (279 kasus) dan pelat (172 kasus), tingkat operasi ulang dan mortalitas pada pasien dengan fraktur batang humerus.

  HASIL: Tidak ada perbedaan dalam tingkat operasi ulang atau kematian dalam satu tahun. Waktu anestesi berkurang rata-rata 27,1 menit pada kelompok paku intramedullary (p<0,0001). < span="">

  Poin-poin penting: Tingkat operasi ulang paku intramedullary dan pelat serupa. Para penulis mencatat bahwa keuntungan dari waktu operasi yang lebih pendek dengan paku intramedullary mungkin diimbangi oleh keuntungan biaya rendah dari pelat baja.

  Siku.

  Paku intramedullary untuk fraktur tulang hasta.

  METODE: Sebuah studi retrospektif menilai hasil dari 28 fraktur tulang hasta yang tidak stabil yang diobati dengan paku intramedullary ulnar interlocking.

  HASIL: Semua fraktur sembuh dalam waktu 8 minggu. Pada follow-up 12 minggu, rentang gerak berada dalam 10° dari sisi kontralateral dan tidak ada nyeri yang signifikan.

  POIN UTAMA: Paku intramedullary dapat digunakan sebagai pilihan pengobatan alternatif untuk fiksasi pelat untuk fraktur elang Pengobatan non-bedah untuk fraktur elang.

  METODE: Sebuah studi retrospektif terhadap 53 pasien, usia rata-rata 76 tahun (50-98 tahun), semuanya dengan fraktur intra-artikular paruh elang ulnar dengan perpindahan lebih besar dari 2 mm, diobati secara non-operatif.

  HASIL: Semua pasien tidak menjalani perawatan tahap kedua karena fraktur yang tidak menyatu. Dalam jangka pendek (rata-rata 4 bulan), 72% pasien memiliki hasil yang baik. Pada tindak lanjut rata-rata 6 tahun, 91% pasien merasa puas dengan hasilnya.

  Poin-poin penting: Perawatan non-operatif untuk fraktur hawkhead yang tergeser dapat diindikasikan pada pasien usia lanjut dengan kebutuhan sendi siku yang relatif rendah.

  Aktivitas awal fraktur kepala radial.

  METODE: 180 pasien dengan fraktur kepala radial tipe AO/OTAB2 (kominutif tanpa kompresi) secara acak dialokasikan ke salah satu dari tiga kelompok: aktivitas segera pasca operasi, aktivitas setelah 2 hari fiksasi sling dan aktivitas setelah 7 hari fiksasi. Penilaian dilakukan dengan menggunakan beberapa ukuran hasil.

  HASIL: Dua kelompok aktivitas awal memiliki hasil yang lebih baik daripada kelompok fiksasi rem. Hasil terbaik terlihat pada kelompok kasus yang memulai aktivitas setelah dua hari istirahat.

  Poin utama: Imobilisasi restriktif singkat yang diikuti dengan aktivitas awal mengurangi rasa sakit dan meningkatkan prognosis dibandingkan dengan pengereman yang berkepanjangan atau aktivitas langsung.

  Osifikasi heterotopik pada siku.

  METODE: Insiden osifikasi heterotopik diperiksa pada 130 pasien dengan fraktur siku yang diobati dengan pembedahan dengan dislokasi dan faktor risiko osifikasi heterotopik dianalisis.

  HASIL: Osifikasi heterotopik terlihat pada 37% fraktur siku, dengan 20% insiden keterbatasan gerak dan 10% memerlukan perawatan bedah sekunder. Osifikasi heterotopik terjadi pada ujung proksimal fraktur, pada awal jaringan lunak yang robek, paling sering pada aspek posterior leher radial dan ulna. Fraktur humerus distal, Terrible Triad, dan dislokasi fraktur merupakan faktor risiko untuk osifikasi heterotopik.

  Poin utama: Perawatan bedah trauma siku memiliki insiden osifikasi heterotopik yang tinggi, terlihat pada 20% pasien.