7 Tahapan Perkembangan Bahasa Anak Tahap 1 Sejak lahir hingga usia 4 bulan, bayi berada dalam tahap komunikasi bawah sadar. Orang tua hanya dapat menafsirkan rintihan atau tangisan anak sesuai dengan gagasan mereka sendiri, sehingga tahap ini juga disebut komunikasi interpretatif. Pada awalnya, anak tidak menyadari bahwa vokalisasi atau tangisannya sendiri dapat memengaruhi perilaku orang tua, tetapi orang tua memperlakukan anak sebagai individu yang berkomunikasi sejak hari pertama kehidupannya, dan merespons suara anak yang berbeda dengan perhatian yang berbeda pula. Beberapa orang tua berbicara kepada anak dengan kalimat yang pendek dan sederhana, dan para ibu, khususnya, terkadang menggoda anak dengan nada tinggi dan suara yang berlebihan. Dalam lingkungan seperti itu, anak belajar mencari objek komunikasi dan secara bertahap mengembangkan interaksi antara orang tua dan anak, seperti menangis untuk menunjukkan bahwa anak ingin digendong orang tua, atau meminta orang tua untuk merawat anak ketika dia lapar atau telah membasahi dirinya sendiri, dan sebagainya. Hal ini akan berlanjut ke tahap berikutnya. Tahap kedua 4 ~ 9 bulan, untuk tahap komunikasi sadar. Anak usia 4 bulan dapat menggunakan matanya untuk menatap benda-benda yang ditunjukkan oleh orang tuanya, orang tua dan anak menatap benda yang sama secara bersamaan, pada saat ini, yang terbaik adalah orang tua melafalkan kata-kata dari mulutnya dan menyebutkan nama-nama benda tersebut pada anaknya. Pada usia sekitar 6 hingga 8 bulan, orang tua dapat mengucapkan nama pada gambar. Pada usia 9 bulan, anak dapat memiliki tatapan komunikatif, yaitu tidak hanya melihat sesuatu, tetapi juga menoleh ke orang tua dan memperhatikan reaksi orang tua, dan munculnya kemampuan ini berarti anak dan orang tua memiliki transfer informasi secara sadar. Selain itu, bayi berusia 9 bulan juga dapat memahami beberapa kata benda, seperti “cahaya”, “bola”, “anjing”, dan sebagainya. Tahap ketiga 9~18 bulan, adalah tahap kata. Pada usia sekitar 12 bulan, anak dapat mengucapkan kata-kata yang sebagian besar berupa kata benda. Pengucapan kata kerja tertinggal dari pengucapan kata benda, meskipun dokter anak memahami beberapa kata kerja sejak dini. Pada tahap ini, dokter anak akan menggunakan beberapa kata yang akan diucapkannya untuk mengekspresikan dirinya dalam berbagai situasi; kata-kata berkembang sedikit lebih lambat pada awalnya, tetapi kemudian frasa dua kata yang sangat cepat muncul. Secara umum, anak-anak dapat mengucapkan setidaknya 50 kata sebelum mereka mengembangkan frasa. Oleh karena itu, tugas utama orang tua pada tahap ini adalah memperluas kosakata anak, dan sekitar 18 bulan, frasa dua kata muncul. Tahap 4 Dari 18 hingga 24 bulan, tahap frasa. Selama periode ini, anak-anak bungsu mengatakan berbagai hal tentang diri mereka sendiri dan lingkungan tempat mereka tinggal dengan menggunakan kata-kata dan frasa dan memiliki bentuk-bentuk ujaran pertama. Alih-alih berfokus pada isi kata-kata anak, orang tua melatih anak untuk menggunakan kalimat, yang mencakup komponen tata bahasa, dan pelatihan bahasa harus dilakukan di lingkungan anak, mendorong mereka untuk berkomunikasi dengan orang tua dan guru. Pada awal tahap ini, orang tua memberikan demonstrasi kepada anak-anak mereka tentang frasa seperti “duduk di bangku” dan “cium boneka”. Para ahli linguistik terbagi antara mereka yang mendukung dan mereka yang menentang peragaan ucapan “telegrafis” seperti itu. Namun, satu prinsip yang harus diingat: bahasa bukan hanya kombinasi kata-kata sederhana yang mengungkapkan makna, tetapi lebih kepada pembentukan tata bahasa dari kalimat-kalimat yang masuk akal. Oleh karena itu, dalam intervensi bahasa anak, orang tua harus menghindari berkomunikasi dengan anak menggunakan kata-kata yang tidak tepat secara tata bahasa. Tahap 5 24 hingga 36 bulan, tahap pembuatan kalimat awal. Anak tidak lagi terbatas berbicara tentang hal-hal yang ada di sini dan saat ini, tetapi juga dapat berbicara tentang hal-hal yang tidak ada di depannya, dan dapat menggunakan frasa sederhana seperti kata benda ditambah kata kerja. Dalam bicaranya, anak juga sudah bisa menggunakan kata ganti seperti “aku, kamu, dia”, kata depan seperti “atas, bawah”, dan kata sifat seperti “baik, buruk, lebih, kurang”. Pada usia 36 bulan, pada dasarnya anak-anak dapat mengekspresikan diri mereka sendiri dalam kalimat-kalimat pendek dan mulai mengembangkan sistem pembuatan kalimat yang lengkap. Tahap 6: Penguasaan kalimat, usia 3-5 tahun. Anak dapat menggunakan kalimat sederhana dan kalimat yang lebih kompleks, telah menguasai sebagian besar bentuk struktur tata bahasa, dan mampu memiliki sedikit pemahaman tentang hubungan abstrak kata-kata. Beberapa psikolog percaya bahwa kosakata anak pada tahap ini mendekati kosakata orang dewasa, dan ia berbicara seperti “orang dewasa kecil”. Pada saat ini, orang tua dan anak harus fokus pada komunikasi ekspresi kalimat yang lengkap, agar anak dapat berperan sebagai panutan, dan pada saat yang sama melatih anak untuk mengikuti instruksi untuk melakukan sesuatu, sehingga dapat mempersiapkan diri untuk bahasa sekolah. Tahap 7 Usia 5 ~ Dewasa, tahap tata bahasa yang lengkap. Sejak saat itu, anak-anak secara bertahap membangun kemampuan bahasa seperti orang dewasa. Anak-anak dalam proses ini juga masih memperluas kosakata mereka, meningkatkan ekspresi mereka dan penggunaan bahasa di lingkungan, tetapi tidak lagi menambahkan bentuk-bentuk bahasa baru. Ini adalah periode pertumbuhan yang ditandai dalam kemampuan individu untuk berkomunikasi, dan beberapa ahli percaya bahwa usia lima tahun adalah titik balik dalam perkembangan bahasa, dan bahwa dari titik ini hingga usia dua belas tahun, akan ada perubahan mendasar dalam perkembangan bahasa, tidak hanya dalam kompleksitas kalimat, tetapi juga dalam pengembangan makna kalimat dan penggunaan bahasa ke tingkat yang lebih tinggi, dan bahwa salah satu perubahan yang paling mencolok adalah penggunaan bahasa di mana anak belajar membaca dan menulis.