Apa yang menyebabkan asfiksia seksual

Etiologi penyakit ini belum dipahami dan sangat kompleks. Belum ada kesimpulan yang pasti, tetapi umumnya dianggap terkait dengan karakteristik biologis pasien dan faktor psikososial. Hal ini diduga terkait dengan biologi pasien dan faktor psikososial, seperti asfiksia dini atau pelecehan fisik atau seksual, yang perlahan-lahan berkembang menjadi perilaku sesak nafas yang diinduksi sendiri. Selain itu, heteroseksualitas normal telah mengalami kemunduran; anak usia dini dan remaja oleh peran dan pengaruh rangsangan seksual di lingkungan keluarga, pengalaman kegembiraan seksual; kecabulan, pornografi, peran dampak anak-anak, remaja yang memiliki minat seksual kegembiraan seksual khusus, preferensi seksual, prasangka seksual, serta adanya faktor psikososial, peristiwa penting, dll., dapat membuat gangguan psikologis seksual normal, menghasilkan perilaku seksual yang abnormal. A. Penyebab Utama 1. Faktor Biologis: Berbagai faktor biologis, termasuk kelainan dalam genetika, kekebalan, neurotransmitter, perkembangan saraf, kadar hormon, struktur dan fungsi otak, memainkan peran kunci dalam perkembangan gangguan tersebut. 2. Faktor Psikologis dan Sosial: Frustrasi atau distorsi perkembangan psikoseksual merupakan faktor penting yang mengarah pada asfiksia seksual. Heteroseksualitas normal mengalami kemunduran, anak usia dini oleh pengaruh lingkungan keluarga yang netral, pengaruh materi cabul, pornografi, awal yaitu hobi seksual khusus, prasangka seksual, dan dampak dari peristiwa penting, dll., Dapat membuat gangguan psikoseksual normal, dan dengan demikian menghasilkan perilaku seksual yang tidak normal. 3, faktor perilaku: Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa perilaku seksual yang salah dan ilmu perilaku terkait. Biasanya terkait dengan pelecehan seksual yang diderita pasien semasa kecil, akan disebabkan oleh tercekiknya reaksi kuat dari fungsi tubuh, sehingga pasien akan mengulangi perilaku mencekik ini, meskipun pasien tidak lagi dilecehkan saat dewasa, tetapi masih memiliki dorongan untuk mengulangi perilaku ini. Kedua, faktor predisposisi 1, pengaruh materi cabul, pornografi: media seperti televisi, game, internet akan terpapar gambar atau video porno di depan anak muda, beberapa akan menghasilkan kegembiraan seksual. Jika rangsangan seksual ditingkatkan dengan menghambat pernapasan dalam prosesnya, asfiksia seksual kemungkinan besar akan terbentuk. 2. Kerugian yang diderita dalam proses interaksi normal: seperti kecurangan objek, interaksi yang buruk, dan situasi lain membuat mereka menderita trauma psikologis dan tidak dapat memperoleh kepuasan melalui kehidupan seksual normal.