Pertimbangan diet untuk tumor

Sejak tahun 1970-an, angka kejadian dan kematian akibat kanker di Tiongkok terus meningkat. Penelitian telah menunjukkan bahwa 80 persen penyebab kanker terkait dengan perilaku gaya hidup. Oleh karena itu, beberapa ahli telah mengajukan konsep “kanker gaya hidup”. Gaya hidup adalah kecenderungan perilaku atau pola perilaku yang dibentuk oleh individu dan kelompok dalam proses sosialisasi jangka panjang. Gaya hidup yang berhubungan dengan kesehatan meliputi pola makan, belajar, bekerja, istirahat, olahraga, kebersihan diri, kebersihan keluarga, komunikasi interpersonal, perlindungan terhadap lingkungan dan aspek-aspek lainnya. Gaya hidup sebenarnya adalah kebiasaan hidup. Sebuah laporan yang dikeluarkan oleh Cancer Research UK menunjukkan bahwa lebih dari 40% pasien kanker yang didiagnosis di Inggris setiap tahunnya disebabkan oleh gaya hidup yang buruk seperti merokok, minum minuman keras, kurang makan sayur dan buah, serta kurang aktivitas fisik. Oleh karena itu, pakaian, makanan, perumahan, dan transportasi dapat menyebabkan “kanker gaya hidup”, di antaranya merokok, alkoholisme, pola makan, dan olahraga yang paling erat kaitannya dengan kanker. Hubungan antara merokok dan alkoholisme dengan kanker tidak dibahas di sini karena keduanya sudah diketahui sebagai penyebab kanker. Pola Makan dan Kanker Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah besar penelitian epidemiologi dan etiologi telah dilakukan terhadap kanker esofagus baik di dalam maupun di luar negeri, yang menunjukkan bahwa tingginya insiden kanker esofagus terkait dengan status sosial ekonomi yang rendah, kebiasaan makan yang buruk, riwayat penyakit, dan keturunan keluarga, di antaranya faktor pola makan memegang peranan penting. Makanan acar, pola makan yang tidak teratur, makanan berjamur, makanan panas, makanan tinggi garam, makan cepat dan acar merupakan faktor risiko kanker esofagus. Makanan acar dan makanan berjamur mengandung senyawa nitroso, yang memiliki efek karsinogenik yang kuat pada sebagian besar hewan. Makanan yang dipanaskan di atas suhu 70 derajat akan berdampak serius pada siklus proliferasi sel epitel mukosa esofagus dan menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi sel untuk menghasilkan kanker di bawah aksi produk metabolisme yang berbahaya. Praktik pola makan yang buruk seperti kecepatan makan dan pola makan yang tidak teratur telah muncul dengan meningkatnya tekanan sosial dan percepatan laju kehidupan. Ketika makanan kurang dikunyah, zat-zat kasar dalam makanan akan merusak mukosa esofagus dalam waktu yang lama, terutama pada area penyempitan fisiologis. Ketidakteraturan pola makan dalam jangka panjang akan menyebabkan gangguan pergerakan dan koordinasi pada esofagus dan menyebabkan kerusakan pada esofagus. Kanker lambung terutama merupakan tumor ganas yang disebabkan oleh faktor lingkungan (termasuk gaya hidup). Data survei epidemiologi kanker lambung di dalam dan luar negeri menunjukkan bahwa kebiasaan pola makan yang buruk (makan tidak teratur, makan berlebihan, makan cepat, menyukai makanan panas, dan lain-lain) merupakan faktor risiko kanker lambung. Jika kebiasaan pola makan yang buruk, maka akan mudah membentuk beban berlebih pada lambung, menyebabkan kerusakan selaput lendir lambung secara mekanis dan gangguan sekresi asam lambung, yang akan menyebabkan terjadinya penyakit lambung kronis dalam jangka panjang. Penyakit lambung kronis, terutama gastritis atrofi, merusak fungsi perlindungan dan penghalang mukosa lambung dan meningkatkan risiko karsinogen. Selain itu, sering mengonsumsi makanan yang diawetkan meningkatkan risiko kanker lambung. Percobaan pada hewan dan studi epidemiologi telah menemukan korelasi positif antara asupan makanan yang diawetkan dan kanker lambung. Sejumlah besar data epidemiologi menunjukkan bahwa diet tinggi lemak secara signifikan meningkatkan kejadian kanker kolorektal. Penelitian telah menunjukkan bahwa diet asam lemak jenuh meningkatkan konsentrasi asam empedu dalam usus besar dan mengubah komposisi flora usus besar, yang oleh aksi bakteri dapat menghasilkan karsinogen tertentu. Serat makanan, di sisi lain, memiliki efek menyerap air, meningkatkan volume tinja, mengencerkan konsentrasi residu usus, dan memperpendek waktu yang diperlukan tinja untuk melewati usus besar, sehingga mengurangi waktu karsinogen bersentuhan dengan mukosa usus besar. Oleh karena itu, diet tinggi lemak dan kurangnya serat makanan merupakan faktor penting yang memicu kanker kolorektal. Selain itu, diet tinggi gula rafinasi, terutama sukrosa, dapat meningkatkan risiko kanker usus besar dan rektum. Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa faktor-faktor seperti tinggi lemak, rendah sayuran, indeks massa tubuh yang besar (BMI) dan kandungan lemak tubuh yang tinggi dapat meningkatkan kejadian kanker payudara pada wanita. Para peneliti asing telah melaporkan bahwa risiko kanker payudara pada orang yang memiliki pola makan tinggi lemak dan rendah serat dua kali lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang memiliki pola makan rendah lemak dan tinggi serat. Sejumlah penelitian telah menemukan bahwa ada korelasi antara obesitas dan kanker payudara, dan semakin dini usia obesitas, semakin besar risiko kanker payudara. Sering mengonsumsi makanan yang digoreng dan dipanggang serta makanan yang diasap dan diawetkan (>50g 3 kali/minggu) merupakan faktor risiko yang kuat untuk kanker payudara.