Penyakit ini berkembang pada musim dingin dan musim semi, sering kali sekunder akibat infeksi saluran pernapasan bagian atas, dan paling umum terjadi pada anak-anak berusia 6 bulan hingga 3 tahun. Mereka rentan terhadap obstruksi laring yang menyebabkan dyspnoea. Ciri-ciri anatomi: 1. Rongga laring kecil pada anak-anak dan selaput lendirnya longgar, sehingga mengakibatkan obstruksi kotak suara. 2. Tulang rawan laring lunak dan mukosa serta submukosa melekat secara longgar. 3. Submukosa laring kaya akan jaringan limfatik dan kelenjar. 4. Refleks batuk buruk dan sekresi trakea dan laring tidak mudah keluar. 5. Resistensi dan kekebalan yang rendah. 6. Sistem saraf tidak stabil dan mudah terpancing untuk laringospasme. 7. Laringospasme meningkatkan kongesti dan obstruksi laring, membuat rongga laring lebih sempit. Manifestasi klinis: 1. Gejala yang timbul dengan cepat, ringan di siang hari dan lebih buruk di malam hari. 2. Suara serak dan batuk menggonggong. 3. Menginspirasi laring mengi dan dyspnoea inspirasi. 4. Dalam kasus yang parah, trismus dapat terjadi. Prinsip pengobatan: 1. Jaga agar jalan napas tetap terbuka. 2. Kendalikan infeksi. 3. Terapkan hormon. 4. Obati secara simtomatik dengan trakeotomi.