Impotensi, yang secara medis dikenal sebagai disfungsi ereksi, memang lebih banyak terjadi pada kelompok usia paruh baya 40 tahun dibandingkan kelompok usia yang lebih muda, tetapi bukan hal yang tidak biasa jika gejala-gejala ini muncul.
Studi statistik menunjukkan bahwa timbulnya disfungsi ereksi berkaitan erat dengan bertambahnya usia pria, sehingga kelompok usia 40 tahun memang secara statistik lebih mungkin menderita penyakit ini daripada kelompok usia yang lebih muda. Namun, berapapun usianya, penyakit ini merupakan kelainan organisme dan tidak dapat dinilai sebagai “normal”.
Pada saat yang sama, perlu dicatat bahwa, sebagai salah satu disfungsi seksual yang paling umum pada pria, disfungsi ereksi dapat berdampak negatif pada kualitas hidup pasien, stabilitas keluarga, dll. Oleh karena itu, mereka yang memiliki manifestasi yang berkaitan dengan penyakit ini harus berkonsultasi dengan dokter tepat waktu, di bawah bimbingan dokter profesional untuk melakukan diagnosis dan pengobatan standar.
Jangan membuat penilaian membabi buta dan membuangnya sendiri, agar tidak menimbulkan konsekuensi yang merugikan.