Jerawat, umumnya dikenal sebagai “jerawat,” adalah penyakit kulit peradangan kronis pada unit kelenjar sebaceous folikel rambut, terutama pada remaja, dan memiliki dampak besar pada psikologi dan kehidupan sosial mereka. Jika tidak ditangani dengan benar atau secara aktif dicegah dan diobati, dapat dengan mudah meninggalkan kerusakan seperti perubahan warna dan jaringan parut, meninggalkan penyesalan seumur hidup. Jika pencegahan dan pengobatan dini dapat dilakukan secara ilmiah dan wajar, jaringan parut yang menodai dan kerusakan lainnya dapat dihindari atau diminimalkan. Jadi, bagaimana cara mencegah dan mengobati jerawat dengan benar? Pertama, kita harus belajar mengenali jerawat. Orang mungkin bertanya-tanya, “jerawat” kita tidak tahu? Namun, dalam pekerjaan klinis, kita sering menemukan bahwa pasien hanya menganggap beberapa jerawat merah atau kepala nanah sebagai jerawat, dan berpikir bahwa komedo hitam, komedo putih, kista, dll. Bukan jerawat. Faktanya, manifestasi klinis jerawat ditandai dengan lesi polimorfik seperti jerawat, papula, pustula, dan nodul, yang umumnya ditemukan di wajah. Selain itu, pasien sering bertanya, “Dokter, apakah jerawat saya serius?”. Kami akan membahas pertanyaan-pertanyaan ini di bawah ini. Klasifikasi jerawat merupakan dasar penting untuk pengobatan jerawat dan evaluasi kemanjuran. Menurut sifat dan tingkat keparahan lesi jerawat, jerawat dapat dibagi menjadi tiga tingkatan: Tingkat 1 (ringan): hanya jerawat; Tingkat 2 (sedang): papula inflamasi selain jerawat; Tingkat 3 (sedang): pustula selain jerawat dan papula inflamasi; Tingkat 4 (parah): nodul, kista atau jaringan parut selain jerawat, papula inflamasi dan pustula. Penyebab jerawat berkaitan erat dengan sekresi sebum yang berlebihan, penyumbatan saluran sebasea folikel rambut, infeksi bakteri, dan reaksi peradangan. Setelah pubertas, tingkat androgen dalam tubuh, terutama testosteron, meningkat dengan cepat, mendorong perkembangan kelenjar sebasea dan memproduksi sebum dalam jumlah besar. Pada saat yang sama, keratinisasi abnormal pada saluran kelenjar sebasea folikel rambut menyebabkan penyumbatan saluran, mengakibatkan terhambatnya drainase sebum dan pembentukan sumbatan keratin atau mikrokomedo. Berbagai mikroorganisme, terutama Propionibacterium acnes, berkembang biak di folikel rambut. Lipase yang dihasilkan oleh Propionibacterium acnes memecah sebum untuk menghasilkan asam lemak bebas, yang juga merupakan sel inflamasi kemotaktik dan mediator, yang pada akhirnya menginduksi dan memperburuk reaksi inflamasi. Secara umum, jerawat terutama terkait dengan gangguan endokrin (sekresi androgen), pola makan dan kebiasaan istirahat yang buruk (sering begadang, stres berlebihan, konsumsi makanan pedas dan merangsang, berminyak), dan sebagainya. Ketiga, cara mengobati jerawat 1, perawatan sehari-hari Menjaga kebiasaan hidup dan makan yang baik serta suasana hati yang bahagia. Cuci muka dengan air hangat sekali atau dua kali sehari, atau gunakan pembersih untuk menghilangkan minyak dan jerawat, dan hindari memencet atau menggaruk lesi dengan tangan Anda. Jangan menggunakan kosmetik berminyak atau bedak, salep dan krim yang mengandung glukokortikoid. 2. Pengobatan jerawat secara bertingkat (1) Tingkat 1 umumnya diobati secara topikal, dengan preparat asam retinoat topikal (krim asam retinoat, gel adapalene, gel tazarotene) lebih disukai. (2) Tingkat 2 menggabungkan retinoid topikal dan benzoil peroksida atau antibiotik, dikombinasikan dengan antibiotik oral jika perlu (minocycycline, doxycycline, dll. lebih disukai, diikuti oleh makrolida, antibiotik biasanya 6-12 minggu). (3) Tingkat 3 sering membutuhkan terapi kombinasi, dengan antibiotik oral yang dikombinasikan dengan benzoil peroksida topikal dan/atau retinoid lebih disukai. Terapi antiandrogen juga dapat dipertimbangkan pada pasien wanita dengan indikasi. (4) Kelas 4 isotretinoin oral (Tylenol) adalah pengobatan yang paling efektif dan dapat digunakan sebagai terapi lini pertama. Pengobatan ditujukan untuk mencapai dosis kumulatif minimum 60 mg/kg (lebih dari enam bulan untuk pasien dengan berat badan normal 60 kg jika mengonsumsi 2 kapsul sehari). Bagi mereka yang memiliki papula dan pustula yang lebih inflamasi, antibiotik sistemik yang dikombinasikan dengan benzoil peroksida topikal juga dapat diterapkan terlebih dahulu, dan kemudian beralih ke pengobatan berurutan dengan isotretinoin oral setelah perbaikan lesi yang signifikan.