Melahirkan tanpa rasa sakit adalah ciri khas kebidanan modern yang beradab. Rasa sakit saat melahirkan adalah fakta objektif dalam sejarah manusia, dengan dasar fisiologis dan psikologis. Manusia selalu berusaha mencari cara untuk membuat proses persalinan menjadi aman dan tanpa rasa sakit. Analgesia dalam persalinan telah dipelajari selama lebih dari satu abad dan dokter memiliki tanggung jawab untuk menyediakan layanan ini. Melahirkan adalah proses reproduksi dan kelahiran tanpa rasa sakit adalah hak setiap wanita dan bayinya. Ibu memiliki hak untuk melahirkan dengan aman dan bahagia dan janin memiliki hak untuk dilindungi dan diperlakukan dengan baik selama proses tersebut. Melahirkan tanpa rasa sakit meningkatkan keselamatan ibu dan anak selama persalinan dalam berbagai tingkatan. Analgesia dalam persalinan memperpendek durasi persalinan, mengurangi tingkat operasi caesar dan perdarahan pascapersalinan, meningkatkan aliran darah plasenta dan mengurangi hipoksia janin dan asfiksia neonatal. Persalinan tanpa rasa sakit dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip tertinggi keselamatan ibu dan janin. Komplikasi umum dari analgesia persalinan epidural, seperti hipotensi dan sakit kepala, bersifat ringan dan komplikasi serius yang mengancam jiwa jarang terjadi. Efek samping yang umum terjadi adalah efek pada proses persalinan dan efek pada suplai darah plasenta. Hipotensi adalah faktor utama yang mempengaruhi aliran darah ke plasenta. Namun, ketika konsentrasi obat dikurangi ke tingkat tertentu (yaitu konsentrasi biasa), efeknya tidak signifikan. Konsentrasi obat yang digunakan dalam persalinan tanpa rasa sakit jauh lebih rendah daripada dosis anestesi yang digunakan dalam prosedur normal seperti operasi caesar, dan dokter jarang ditanya tentang efek obat anestesi pada janin ketika seorang wanita memilih untuk menjalani operasi caesar. Prioritas tertinggi diberikan pada keselamatan ibu dan bayi, dan jumlah obat yang diserap melalui plasenta sangat minim dan tidak berdampak buruk pada kesehatan otak bayi.