Hipersensitivitas penciuman adalah peningkatan sensitivitas terhadap rangsangan bau penciuman dan merupakan manifestasi klinis dari gangguan penciuman Saraf penciuman adalah serabut saraf yang membentang dari epitel penciuman melalui lempeng saringan ke bola penciuman. Kemampuan mencium adalah karakteristik dari sel-sel penciuman di mukosa hidung. Kerusakan pada mukosa hidung, bola penciuman, filamen penciuman, atau koneksi sistem saraf pusat dapat memengaruhi indera penciuman. Manifestasi klinis meliputi hiposmia, kehilangan penciuman, tidak adanya penciuman, inversi penciuman, penciuman hantu, dan peningkatan kepekaan terhadap rangsangan penciuman. Gejala utama hipersensitivitas penciuman yang mudah membingungkan adalah sebagai berikut 1. Hiposmia: Gangguan penciuman sering kali dimanifestasikan sebagai hilangnya sensitivitas terhadap rangsangan penciuman. 2 .Kehilangan penciuman: Gangguan penciuman yang parah, yang dimanifestasikan dengan hilangnya respons terhadap rangsangan penciuman. 3. Defisit penciuman: defisit penciuman bawaan, yang dimanifestasikan sebagai kurangnya respons terhadap rangsangan bau penciuman. 4. Inversi penciuman: bermanifestasi sebagai respons yang salah tempat terhadap rangsangan bau penciuman, tetapi tidak disertai gangguan ketajaman penciuman. 5. Bau hantu: Tidak ada rangsangan penciuman yang objektif, tetapi pasien mencium bau yang tidak dapat dilukiskan dan biasanya tidak menyenangkan.