Cerebral palsy adalah kelainan pada gerakan pusat dan kelainan postur tubuh yang disebabkan oleh kerusakan otak yang tidak progresif dan cacat perkembangan sejak sebelum hingga setelah lahir, disertai dengan keterbelakangan mental, epilepsi, gangguan persepsi, gangguan bicara dan kelainan perilaku mental. Manifestasi utama cerebral palsy adalah perkembangan motorik yang tidak normal, terutama keterbelakangan perkembangan motorik, perubahan tonus otot, postur tubuh yang tidak normal, dan berbagai refleks saraf yang tidak normal. Pada usia 8 hingga 9 bulan, anak dapat memunculkan “refleks parasut”. Ada banyak tipe klinis cerebral palsy, termasuk tipe spastik, yang ditandai dengan peningkatan tonus otot dan pergerakan anggota tubuh yang terbatas, yang mencakup 60-70% dari semua anak. Tipe tardive dyskinesia menyumbang sekitar 20% kasus dan terutama ditandai dengan gerakan tak disengaja yang sulit dikendalikan dengan kemauan. Jenis lain yang jarang terjadi adalah tonik, ataksia, tremor, hipotonik, dan sebagainya. Selain gejala di atas, anak-anak dengan cerebral palsy juga dapat mengalami keterbelakangan mental, epilepsi, gangguan mata, dll. Diagnosis cerebral palsy didasarkan pada riwayat dan pemeriksaan fisik. Pencitraan neurologis dapat menunjukkan adanya kelainan pada struktur tengkorak, yang dapat membantu dalam menentukan penyebab cerebral palsy dan prognosisnya.