Titik diagnostik untuk vasokonstriksi kulit dalam pola retikuler

Penyempitan pembuluh darah kulit dalam pola retikuler dianggap sebagai karakteristik cedera akibat petir. Cedera sengatan listrik adalah cedera yang disebabkan oleh mengalirnya arus listrik ke seluruh tubuh. Cedera ini biasanya disebabkan oleh sengatan listrik atau sambaran petir yang tidak disengaja. Ketika seseorang tersambar petir, detak jantung dan pernapasan sering kali berhenti seketika, disertai dengan kerusakan miokard, diikuti dengan mioglobulinuria dan pola retikuler vasokonstriksi pada kulit, yang dianggap sebagai ciri khas cedera petir. Hal ini diikuti oleh mioglobulinuria. Pada kasus ringan setelah tersengat listrik hanya terjadi kontraksi otot yang menyakitkan, panik, pucat, sakit kepala, pusing, dan jantung berdebar. Kasus yang parah dapat menyebabkan hilangnya kesadaran, syok, henti jantung dan pernapasan. Aritmia ventrikel yang parah, edema paru, perdarahan saluran cerna, koagulopati, dan insufisiensi ginjal akut sering terlihat setelah sengatan listrik. Perhatian klinis khusus harus diberikan pada kemungkinan korban mengalami beberapa cedera, termasuk kerusakan otot, kerusakan organ dalam, dan luka bakar internal dan eksternal. Korban yang selamat mungkin mengalami gejala sisa jantung dan neurologis. Luka bakar yang parah akibat sengatan listrik tegangan tinggi biasanya terlihat di lokasi masuk dan keluarnya arus. Ciri yang paling mencolok dari trauma sengatan listrik adalah trauma minimal pada kulit dan kerusakan jaringan dalam yang luas di bawah kulit. Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan riwayat sengatan listrik pasien dan keadaan di tempat kejadian. Setiap episode jatuh dari ketinggian atau terlempar akibat sengatan listrik harus dipahami. Perhatikan kemungkinan cedera pulpa servikal, fraktur, dan cedera viseral. Pengukuran LDH, CK, dan amilase darah, serta pemeriksaan mioglobin dan hemoglobin urin dapat membantu menentukan tingkat kerusakan jaringan. Diagnosis banding] Beberapa pasien memiliki detak jantung dan pernapasan yang sangat lemah setelah tersengat listrik, atau bahkan terhenti sementara, dan berada dalam keadaan “mati semu”, jadi penting untuk membedakannya dengan hati-hati dan tidak mudah menyerah untuk menyadarkan korban sengatan listrik.