Tes apa saja yang diperlukan untuk infertilitas wanita?

Kehamilan adalah suatu proses fisiologis yang terjadi di dalam tubuh wanita. Oleh karena itu, fungsi normal reproduksi wanita berhubungan langsung dengan keberhasilan pembuahan. Jika indung telur tidak berovulasi, saluran tuba tersumbat, leher rahim menghalangi perjalanan sperma atau rahim tidak dapat “berbaring”, semua hal ini dapat secara langsung memengaruhi pembuahan. Penting untuk bekerja sama dengan dokter selama pemeriksaan fisik dan ginekologi umum untuk memahami perkembangan tubuh dan kondisi alat kelamin internal dan eksternal. Pemeriksaan ginekologi akan menunjukkan ukuran dan posisi rahim, adanya peradangan pada panggul, terutama jika terdapat tanda-tanda peradangan pada saluran tuba di kedua sisi, dan adanya pembengkakan pada perut bagian bawah. Wanita yang tidak subur harus menjawab pertanyaan dokter tentang menstruasi, kehidupan seks dan kondisi lainnya, dan memberikan informasi tentang penyakit khusus dalam keluarga pasangan, riwayat kesehatan, pekerjaan, dan hobi. Ketika saluran tuba seorang wanita terlalu panjang, terlalu tipis, bengkok, berubah bentuk, atau tidak terbuka, sumbatan tuba sering kali dapat menghambat pergerakan sperma, sel telur, dan sel telur yang telah dibuahi. Lesi pada saluran tuba dapat didiagnosis dengan pencitraan tuba. Jika perlu, hal ini dapat dikonfirmasi dengan laparoskopi, histeroskopi, atau pencitraan tuba selektif. Selain itu, histerosalpingogram atau histeroskopi juga dapat mendiagnosis lesi dalam rongga rahim. Tes fungsi ovarium dapat dilakukan untuk menentukan kemampuan berovulasi dan apakah korpus luteum berfungsi secara normal setelah ovulasi. Pengamatan tidak langsung seperti suhu tubuh basal, perubahan lendir serviks, apusan vagina secara berkala, dan pemeriksaan endometrium sering digunakan untuk menentukan ovulasi dan fungsi luteal. Jika perlu, kadar hormon seks dalam darah juga dapat diukur, dan perkembangan folikel serta ovulasi dapat diamati dengan USG atau laparoskopi. Pada beberapa wanita yang tidak subur, tes khusus seperti antibodi anti-sperma dalam darah dan lendir serviks, antibodi endometrium, antibodi toksoplasma, tes Ureaplasma dan Chlamydia pada lendir serviks, serta tes golongan darah dan kromosom juga diperlukan untuk mengidentifikasi penyebab ketidaksuburan dan mengambil tindakan yang ditargetkan untuk mengobatinya. Faktor utama yang menyebabkan infertilitas adalah: 1) lesi ovarium, gangguan hipofisis hipotalamus, dan penyakit sistemik yang menyebabkan ovulasi; 2) faktor tuba adalah faktor yang paling umum yang menyebabkan infertilitas; 3) faktor leher rahim dan vagina seperti kelainan bawaan rahim dan fibroid submukosa; 4) penyebab alloimun dan autoimun dari infertilitas.