Seiring dengan meningkatnya standar hidup masyarakat dan bertambahnya waktu luang mereka, hewan peliharaan seperti anjing dan kucing menjadi semakin populer. Sambil menikmati kesenangan hewan peliharaan tersebut, ada juga kebutuhan mendesak untuk melindungi diri mereka secara lebih efektif dari bahaya. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), rabies adalah penyakit di seluruh dunia yang membunuh 55.000 orang setiap tahun, atau satu orang setiap menit. Negara kita adalah negara kedua yang paling banyak terkena dampak rabies di dunia, dengan lebih dari 3.000 kematian akibat rabies setiap tahunnya! Rabies adalah infeksi akut yang disebabkan oleh virus rabies yang merusak sistem saraf pusat. Sumber utama penularannya adalah anjing, yang menyumbang sekitar 95% kasus, diikuti oleh kucing, unggas lainnya seperti sapi, kuda dan babi, hewan liar seperti serigala, monyet dan rubah, serta tikus, kelinci dan marmut. Gejala khas rabies onset awal adalah takut air, kejang otot menelan jika minum, ketidakmampuan untuk menelan air, takut minum meskipun haus, kejang otot umum, mania, dll. Masa inkubasi adalah beberapa hari, hingga 2 tahun atau puluhan tahun, dengan kejadian umum sekitar 15% dalam waktu 3 bulan. Waktu onset bervariasi, tergantung pada jarak lokasi gigitan dari sistem saraf pusat dan luasnya gigitan, serta jumlah virus yang terinfeksi. Kementerian Kesehatan memiliki aturan yang jelas untuk menilai pasca-paparan. Sederhananya, kontak dengan hewan tanpa cedera dianggap sebagai paparan primer, terluka oleh hewan tanpa pendarahan atau kulit yang rusak akibat kontak dengan hewan adalah paparan sekunder, dan pendarahan akan menjadi paparan tersier. Setelah digigit atau dicakar oleh hewan, disarankan agar lokasi gigitan segera dibersihkan dan didesinfeksi secara menyeluruh. Metode umum perawatan luka yang digunakan adalah: bilas area yang terluka dengan air sabun 20% selama sekitar 20 menit, kemudian disinfeksi dengan iodofor, dan, tergantung pada situasinya, pilihlah untuk menyuntikkan vaksin rabies, imunoglobulin rabies, tetanus, dan suntikan lainnya.