Baru-baru ini, Pusat Kesehatan Ibu dan Anak dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok (CDC) merilis hasil penelitian “Survei Epidemiologi Alergi pada Bayi dan Anak di Daerah Perkotaan”. Penyakit alergi telah terdaftar oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai salah satu masalah kesehatan masyarakat yang paling serius di abad ke-21. Mengapa alergi terjadi pada bayi dan anak kecil? Apa saja faktor yang relevan? Pertama, perkembangan bayi yang belum matang Perkembangan usus bayi belum matang, flora usus tidak seimbang, dan saluran usus bayi masih memiliki celah, yang mudah dieksploitasi oleh alergen dan masuk ke aliran darah dari celah usus, menyebabkan alergi. Bayi yang baru lahir perkembangan sistem kekebalan tubuh yang belum matang, lingkungan eksternal akan menghasilkan respon imun yang salah, juga merupakan faktor kunci terjadinya penyakit alergi. Kedua, faktor genetik Alergi memiliki faktor keturunan yang kuat, jika kedua orang tua tidak memiliki riwayat alergi, risiko bayi terkena alergi adalah 15%, jika salah satu orang tua memiliki riwayat alergi, risiko bayi terkena alergi meningkat 20-40%, jika kedua orang tua memiliki riwayat alergi, risiko bayi terkena alergi mencapai 60% -80%. Operasi caesar Operasi caesar adalah proses persalinan yang steril, yang tidak kondusif untuk aktivasi dan pematangan sistem kekebalan tubuh bayi. Sejumlah besar penelitian klinis telah menunjukkan bahwa risiko alergi meningkat sebesar 23% pada anak-anak yang lahir melalui operasi caesar tanpa riwayat alergi dalam keluarga, sedangkan risiko alergi pada anak-anak yang lahir melalui operasi caesar dengan riwayat alergi dalam keluarga tiga kali lebih tinggi daripada yang asli. Faktor lingkungan lainnya Ada banyak faktor lingkungan yang berbeda yang dapat menyebabkan alergi. Calon ibu yang terpapar asap rokok selama kehamilan, mengonsumsi obat penyebab alergi, bersentuhan dengan serbuk sari, makan makanan yang rentan alergi, dll. dapat memicu alergi pada bayi setelah lahir. Alergi juga dapat dipicu oleh pemberian susu formula secara dini pada bayi, pemberian makanan yang rentan alergi secara dini, paparan asap rokok, dan paparan zat penyebab alergi seperti tungau debu di lingkungan. Perlu disebutkan bahwa penggunaan deterjen yang berlebihan (pembersih tangan tanpa bilas, tisu basah, dll.) membuat bayi kurang terpapar mikroorganisme pada usia dini, yang tidak kondusif untuk mendorong perkembangan sistem kekebalan tubuh mereka. Selain itu, desinfektan, jika tertelan ke dalam perut, juga akan membunuh flora di saluran usus, menyebabkan bayi terkena penyakit yang seharusnya tidak mereka alami, seperti alergi dan anafilaksis. Bertindaklah dan mulailah pertahanan kita terhadap alergi!