Tujuan Untuk menganalisis faktor risiko terjadinya fistula pankreas setelah pankreatikoduodenektomi dan memberikan dasar teoritis untuk pengurangan komplikasi pasca operasi yang efektif dalam praktik klinis. Metode Kami menganalisis secara retrospektif data klinis 352 pasien yang menjalani pankreatikoduodenektomi untuk kanker di Rumah Sakit Renji, Fakultas Kedokteran Universitas Shanghai Jiaotong dari September 2009 hingga September 2012, dan membagi pasien ke dalam kelompok fistula pankreas dan kelompok fistula non pankreas sesuai dengan ada atau tidaknya fistula pankreas setelah operasi. Analisis univariat dan analisis regresi logistik multivariat dilakukan untuk memeriksa berbagai faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya fistula pankreas pasca operasi pada periode perioperatif. Hasil Sebanyak 49 kasus fistula pankreas terjadi setelah pankreatikoduodenektomi, dengan tingkat kejadian fistula pankreas sebesar 13,9% (49/352). Insiden fistula pankreas pasca operasi adalah 13,9% (49/352). Analisis univariat dan multifaktorial menunjukkan bahwa insiden fistula pankreas pasca operasi tidak berhubungan dengan jenis kelamin dan usia pasien, riwayat diabetes mellitus, waktu operasi, perdarahan intraoperatif, apakah reseksi dan rekonstruksi pembuluh darah dilakukan, apakah tabung penyangga dibiarkan di saluran pankreas, waktu anastomosis pankreas-usus dan mode rekonstruksi saluran pencernaan. Tekstur pankreas, diameter duktus pankreas <3 mm, kadar bilirubin total serum praoperasi >171 ixmol/L, ikterus praoperasi yang berlangsung lebih dari 8 minggu, dan kadar albumin serum praoperasi <30 g/L merupakan faktor risiko independen untuk perkembangan fistula pankreas pascaoperasi (nilai P <0,05). Kesimpulan Tekstur pankreas, diameter duktus pankreas, ikterus praoperasi, durasi ikterus dan hipoproteinemia merupakan faktor risiko untuk perkembangan fistula pankreas setelah pankreatikoduodenektomi.