Kondisi fisiologis internal yang menentukan tingkat fungsi motorik pada anak-anak dengan cerebral palsy meliputi koordinasi intramuskular, koordinasi antara otot dan kelompok otot, tingkat tonus otot yang abnormal dan mobilitas sendi. Pemulihan fungsi anggota tubuh bagian atas juga merupakan masalah penting yang harus ditangani untuk anak-anak dengan cerebral palsy. Dalam proses pemulihan fungsi anggota tubuh bagian atas pada anak-anak dengan cerebral palsy, apa pun metode pengobatan yang kita gunakan, penting untuk fokus pada masalah otot, tulang dan sendi tanpa mengabaikan faktor-faktor lain yang memengaruhi fungsi anggota tubuh bagian atas, seperti motivasi sensorik, kognitif dan motorik. Dalam menggunakan perawatan bedah atau rehabilitasi, kita harus mempertimbangkan sepenuhnya keadaan spesifik setiap anak dengan cerebral palsy sebelum memutuskan bagaimana melanjutkan: misalnya, anak-anak dengan hemiplegia memiliki keterampilan motorik kasar yang kuat, sehingga keterampilan motorik halus tangan mereka dapat diberikan lebih banyak perhatian, terutama koordinasi tangan; sedangkan anak-anak dengan tetraplegia memiliki disfungsi anggota tubuh bagian atas yang lebih parah, sehingga genggaman dan pelepasan adalah fokus utama dari anak-anak ini. program pelatihan, dengan tujuan meningkatkan keterampilan hidup sehari-hari. Rehabilitasi harian dapat didasarkan pada fisioterapi dan terapi okupasi, termasuk teori biomekanik (ortosis, imobilisasi gips bertahap, tarikan, latihan kekuatan, dll.), teori perkembangan neurologis dan kognitif (terapi perkembangan saraf, terapi motorik kognitif, pembelajaran motorik), dan induksi wajib terapi gerakan, dll. Kami menganalisis dukungan siku dan pelatihan dukungan dua tangan sebagai contoh; gerakan ini adalah dasar untuk sikap tangan-lutut dan sikap tangan-lutut di masa depan. Gerakan ini adalah dasar untuk berdiri dan merangkak dengan tangan lutut di masa depan, dan juga merupakan pelatihan penting untuk mendorong gerakan acak anggota tubuh bagian atas dan bawah. 1. Latihan menyangga siku Postur tubuh yang benar adalah memegang bahu dan siku tegak lurus dengan tanah, dengan sendi siku pada 90 derajat dan kepala menghadap ke atas, sehingga anak dapat menggunakan sikunya untuk menyangga berat tubuh bagian atas. Jika anak memiliki stabilitas bahu yang buruk, bantuan harus diberikan dari kedua bahu sehingga siku anak berada pada posisi yang benar untuk menyelesaikan penguasaan postur tubuh. Terapis bisa mendorong dari satu bahu ke bahu lainnya untuk memfasilitasi pemindahan berat badan dalam posisi berdiri siku. Anak juga bisa dilatih untuk menurunkan dan menaikkan kepala secara merata, menekuk secara lateral ke samping dan memutar ke kiri dan kanan. Jika anak mengalami kesulitan dengan kontrol kepala, terapis dapat dengan lembut menerapkan stimulasi yang sesuai di bagian belakang leher atau di antara tulang belikat. Untuk kasus yang lebih parah, bantal atau penyangga silinder bisa ditempatkan di bawah dada untuk membantu menyangga berat badan anak ketika memulai posisi berdiri siku. 2. Latihan menyangga dengan dua tangan Postur yang benar adalah meluruskan sendi siku dan menggunakan telapak tangan untuk menyangga berat badan, dengan jarak antara kedua tangan selebar kedua bahu dan jari-jari direntangkan di depan. Jika anak memiliki penyangga tungkai atas yang buruk, terapis bisa menggunakan kedua tangan untuk menyangga sendi siku anak dan mempertahankan posisi penyangga untuk mencegah pembengkokan sendi siku secara tiba-tiba, atau menggunakan bidai untuk mempertahankan posisi penyangga untuk kedua tungkai atas. Bantal atau silinder juga dapat ditempatkan di bawah dada anak, seperti pada posisi siku, untuk mendorong dada dan perut bagian atas anak meninggalkan tempat tidur, menggunakan area di bawah perut bagian bawah untuk menopang berat badan. Penyangga dua tangan juga harus menekankan latihan kontrol kepala, penyangga tungkai atas dan latihan transfer berat badan. Penting untuk dicatat bahwa metode pelatihan ini dapat diintegrasikan sesuai dengan kondisi anak, misalnya, terapi okupasi yang dikombinasikan dengan suntikan titik akupunktur dapat meningkatkan fungsi motorik halus tangan anak dengan cerebral palsy. Selain rehabilitasi, perawatan bedah juga penting. Tujuan utama perawatan bedah di sini adalah untuk meringankan kelenturan dan cedera yang disebabkan oleh kelenturan, sehingga meningkatkan fungsi anggota tubuh bagian atas anak. Tonus otot sedekat mungkin dengan normal dan kejang otot pasien yang menyakitkan dapat diatasi dalam jangka panjang, stabil dan lengkap, memberikan prasyarat untuk pemulihan maksimum fungsi motoriknya. Untuk mencapai tujuan yang lebih baik dalam meningkatkan fungsi anggota tubuh bagian atas, pelatihan rehabilitasi setelah pembedahan semacam itu, terutama pelatihan fungsional dengan motivasi, sangat penting dan tidak boleh diabaikan.