Ulkus mulut berulang, juga dikenal sebagai ulkus aphthous berulang (RAU), adalah kelainan ulseratif oral yang menyakitkan dan berulang secara berkala yang penyebabnya tidak diketahui dan mekanisme penyebabnya tidak jelas, dan yang merupakan hasil dari kombinasi faktor, dengan perbedaan individu yang ditandai dalam tingkat keparahan, interval dan durasi. Penelitian saat ini di dalam dan di luar negeri menunjukkan bahwa imunitas, genetika dan lingkungan mungkin merupakan “tiga serangkai faktor” dalam patogenesis penyakit ini, dengan interaksi ketiganya memicu respons kekebalan abnormal yang mengarah ke lesi karakteristik. Hipotesis 1: Faktor kekebalan menyebabkan lesi RAU RAU disusupi oleh sejumlah besar limfosit T pada fase prodromal, dengan sel T helper (CD4, Th) mendominasi pada fase pra-ulkus, sel virulen T (CD8, Ts/c) pada fase ulkus dan sel T helper (CD4) pada fase penyembuhan, menunjukkan bahwa limfosit T memainkan peran penting dalam patogenesis RAU. …… juga menunjukkan bahwa perkembangan RAU dikaitkan dengan imunitas seluler yang rendah, berdasarkan fakta bahwa proporsi CD 3, CD 4 dan sel NK dalam PBMC (sel mononuklear darah perifer) secara signifikan lebih rendah pada pasien RAU daripada pada subjek normal. Sebagian besar ahli percaya bahwa patogenesis penyakit ini terkait dengan disfungsi kekebalan seluler. Saat ini, kelainan pada fungsi kekebalan tubuh dianggap sebagai faktor penting dalam pengembangan RAU, dan penggunaan obat imunomodulator yang ditargetkan diharapkan memiliki hasil yang lebih baik. Hipotesis 2: RAU berhubungan dengan H. pylori Dalam beberapa tahun terakhir, studi klinis telah menemukan bahwa H. pylori juga terdapat dalam rongga mulut manusia dalam jumlah tertentu. H.pylori mungkin merupakan agen penyebab dalam pengembangan ROU. Studi tentang korelasi antara H.pylori dan ROU telah menunjukkan bahwa hubungan antara ROU dan H.pylori sangat erat, tetapi ada banyak faktor yang mempengaruhi studi korelasi. Namun, apakah ulkus mulut berulang secara langsung disebabkan oleh H. pylori perlu dipelajari lebih mendalam. Korelasi antara H. pyloft oral dan H. pylori lambung juga masih memerlukan konfirmasi klinis lebih lanjut. Namun, sebagaimana dibuktikan oleh hasil awal penerapan anti-H.pylori dalam pengobatan ROU, studi mendalam tentang korelasi antara H.pylori dan ROU akan membantu meningkatkan tingkat kesembuhan ROU secara signifikan. Hipotesis 3: Faktor genetik menyebabkan RAU Studi tentang pewarisan gen tunggal, pewarisan poligenik, penanda genetik, dan materi genetik telah menunjukkan kecenderungan genetik terhadap perkembangan RAU. Telah ditunjukkan bahwa frekuensi penyakit ini lebih besar bila diwariskan dari kedua orang tua daripada bila diwariskan secara alternatif. Dalam survei terhadap anggota keluarga pasien, ditemukan bahwa prevalensi penyakit pada kerabat pasien dipengaruhi oleh tingkat kekerabatan, dengan semakin dekat kekerabatan, semakin tinggi prevalensinya, yaitu prevalensi pada kerabat tingkat pertama lebih besar daripada kerabat tingkat kedua dan prevalensi pada kerabat tingkat ketiga. Penggunaan teknik sitogenetik modern untuk mempelajari kejadian mikronukleus dan aberasi kromosom menunjukkan bahwa beberapa kualitas genetik patologis dan kelainan pada materi genetik mungkin ada pada pasien RAU. Hipotesis 4: Faktor psikososial menyebabkan RAU Sejumlah besar praktik klinis juga mengkonfirmasi bahwa pasien mengalami episode ulkus mulut berulang dengan adanya gangguan fungsi saraf pusat seperti neurasthenia, insomnia, ketegangan yang berlebihan, kecemasan dan iritabilitas. Setelah gejala-gejala yang disebutkan di atas membaik atau sembuh, sariawan membaik secara signifikan atau sembuh secara spontan, interval antara serangan diperpanjang, dan gejala dan tanda-tanda berkurang atau tidak jelas, sehingga menunjukkan bahwa RAU terkait erat dengan disfungsi otonom. Akibatnya, pengobatan klinis dengan psikoterapi seperti sedasi dan relaksasi atau pemberian obat anti-kecemasan dan anti-depresan telah menerima beberapa efek terapeutik. Penelitian saat ini menunjukkan bahwa perubahan perilaku psikologis, seperti trauma, kecemasan dan depresi, menyebabkan perubahan kadar hormon dan imunosupresi sementara, yang mengakibatkan kebangkitan kembali virus yang telah terintegrasi dan laten dalam sel inang, dan ekspresi antigen virus pada permukaan sel epitel. Kesimpulannya, penyebab di balik ulkus mulut yang paling umum bisa sangat kompleks, dan sekarang penelitian medis telah memasuki era genetik, patogenesis RAU akan sepenuhnya dipahami dan dasar ilmiah untuk penyembuhan akan diletakkan. Diyakini bahwa dengan penelitian lebih lanjut, patogenesis RAU akan terungkap dan metode pencegahan dan pengobatan yang efektif akan ditemukan.