Dalam beberapa tahun terakhir, terdapat kemajuan yang signifikan dalam pengobatan perinatal dan teknik perawatan neonatal kritis di Tiongkok, dan tingkat kelangsungan hidup neonatus berisiko tinggi (misalnya, bayi dengan berat badan lahir sangat rendah) telah meningkat secara dramatis. Karena neonatus berisiko tinggi berisiko mengalami proses dan hasil perkembangan saraf yang tidak normal, maka sangat penting untuk melakukan penilaian perkembangan saraf dengan benar dalam tindak lanjut terhadap neonatus berisiko tinggi. Hal ini mengharuskan dokter anak yang terlibat dalam tindak lanjut memiliki pemahaman yang baik mengenai tujuan penilaian, metode penilaian dan pemilihannya, serta interpretasi hasil penilaian. Secara umum, tujuan pemeriksaan tindak lanjut pada bayi baru lahir berisiko tinggi adalah sebagai berikut: 1. Untuk mendeteksi bayi baru lahir berisiko tinggi: pemeriksaan perkembangan saraf memungkinkan deteksi dini tanda-tanda kerusakan otak pada bayi baru lahir berisiko tinggi, yang dapat ditindaklanjuti dengan cara yang terfokus dan membantu meningkatkan penggunaan sumber daya medis yang efisien. Selain itu, pemeriksaan neurofisiologis (potensi visual dan pendengaran yang ditimbulkan oleh EEG) dan neuroimaging (USG tengkorak, CT & MRI) merupakan petunjuk penting untuk mendeteksi cedera otak. 2. Diagnosis atau prediksi gangguan perkembangan saraf: Pemantauan perkembangan dilakukan untuk anak-anak yang berisiko untuk membuat diagnosis atau prediksi sesegera mungkin terhadap gangguan perkembangan saraf, termasuk keterbelakangan mental, gangguan perkembangan motorik atau cerebral palsy, keterlambatan bahasa, disartria perkembangan, gangguan sosial, gangguan penglihatan dan pendengaran, dan lain-lain. 3. Penilaian efektivitas intervensi: Untuk bayi yang penilaian perkembangannya menunjukkan keterlambatan yang signifikan, intervensi perkembangan seperti pelatihan motorik, pelatihan visual dan perseptual, dan pelatihan keterampilan komunikasi harus segera diberikan setelah adanya gangguan progresif seperti metabolisme genetik teridentifikasi. Efek dari pelatihan dapat dipantau dengan penilaian perkembangan. 4. Penilaian prognosis perkembangan: Penilaian hasil perkembangan pada anak yang berisiko biasanya dilakukan pada usia 2 hingga 3 tahun dan sekitar usia sekolah. Penilaian perkembangan pada usia 2 hingga 3 tahun masih belum menjadi prediktor yang dapat diandalkan untuk perkembangan mental (misalnya kecerdasan dan bahasa). Secara internasional, penelitian mengenai prognosis jangka panjang anak-anak berisiko sebelum dan sesudah usia sekolah semakin populer dan digunakan untuk menilai nilai berbagai tindakan pengobatan dan teknik perawatan di unit perawatan intensif neonatal (NICU), terutama dalam hal meningkatkan prognosis jangka panjang anak.