Orang yang dalam waktu lama berada dalam tekanan kerja, beban psikologis yang terlalu besar, juga akan berdampak besar pada lambung. Stres mental menyebabkan gangguan saraf otonom, gangguan sekresi asam lambung, pengurangan suplai darah mukosa lambung. Dalam kasus ringan, hal ini dimanifestasikan sebagai nafsu makan yang buruk, dan dalam kasus yang serius, hal ini dapat menyebabkan terjadinya tukak lambung dan bahkan pendarahan lambung akut. Sebuah penelitian menemukan bahwa sekitar 30%-65% penyakit maag disebabkan oleh stres mental. Tukak lambung sangat berkorelasi dengan faktor psikologis seseorang, dan dari tahun 1960-an hingga 1980-an, para peneliti menemukan bahwa sejumlah peristiwa kehidupan yang membuat stres dapat menyebabkan iritasi pada lambung seseorang. Sebuah penelitian di Kanada menemukan bahwa pasukan terjun payung menderita sakit maag empat kali lebih banyak setelah musim latihan daripada biasanya. Hal ini menggambarkan efek ketegangan, stres dan kecemasan pada perkembangan tukak lambung. Orang yang mengalami lebih banyak peristiwa kehidupan yang penuh tekanan dalam waktu singkat memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengembangkan penyakit, terutama tukak lambung, daripada populasi umum. Stres ini termasuk peristiwa yang biasanya menggembirakan seperti pernikahan dan promosi jabatan, serta peristiwa kehidupan yang negatif seperti penyakit serius, kematian orang yang dicintai, atau kehilangan keuangan. Selain itu, pekerjaan yang membutuhkan adaptasi terus-menerus terhadap perubahan baru, seperti pengemudi, petugas polisi, manajer, jurnalis, dan dokter gawat darurat, memiliki tingkat sakit maag yang lebih tinggi. Studi klinis telah menunjukkan bahwa efek negatif dari perubahan lingkungan jauh lebih besar daripada efek ketidakteraturan pola makan terhadap lambung, karena yang pertama membutuhkan mobilisasi emosional yang konstan, yang secara langsung mempengaruhi perubahan fungsi lambung. Selain itu, sejumlah besar praktik klinis menunjukkan bahwa mereka yang introvert, tertekan, mudah tegang, pengekangan yang baik, ketika menghadapi stres tidak mudah untuk menyelesaikan emosi, tetapi lebih mengandalkan merokok, minum untuk meredakan ketegangan, lebih cenderung memiliki masalah. Bagi orang yang berada di bawah tekanan untuk melakukan penyakit lambung selain pemeriksaan dan pengobatan formal, juga harus memperhatikan penyesuaian mental psikologis diri, untuk menghindari stres jangka panjang. Melalui relaksasi, latihan fisik untuk mengalihkan perhatian dan cara dan sarana lain untuk mengurangi beban mental, sehingga dapat kembali ke keadaan normal lebih cepat.