Perilaku dan perkembangan makan pada anak-anak

  Makan adalah proses fisiologis yang kompleks yang berkaitan erat dengan struktur dan fungsi sistem pencernaan dan membutuhkan perkembangan mulut yang normal, termasuk perkembangan struktur mulut, tonus otot mulut, fungsi sensorik dan motorik mulut. Perkembangan saraf memainkan peran penting dalam perkembangan makan; makan juga dipengaruhi oleh faktor psikologis dan sosial. Makan yang tidak tepat dapat menyebabkan malnutrisi dan akibatnya memengaruhi fungsi gastrointestinal.  Oleh karena itu, seorang anak dengan masalah makan perlu dianalisis dari beberapa sudut untuk mengidentifikasi penyebabnya dan menanganinya dengan benar.  Penyakit mulut, gangguan pencernaan, kerusakan otak dan saraf, faktor psikososial, yang semuanya terkait dengan makan.  Gangguan mulut dan pencernaan akan disertai dengan manifestasi penyakit yang sesuai selain masalah makan, misalnya, sariawan, radang tenggorokan atau celah langit-langit akan dikaitkan dengan penolakan makan, air liur dan sering tersedak dan batuk, dan sariawan, radang, dan celah langit-langit akan ditemukan; gangguan pencernaan yang menyebabkan masalah makan juga akan ditemukan dengan tanda dan gejala yang sesuai.  Dua kondisi yang mudah diabaikan dan perlu mendapat perhatian: a. Cedera otak dan saraf: fungsi motorik dan sensorik sangat penting untuk makan. Pada anak-anak dengan cedera neurologis, selain kelainan seperti gangguan gerakan anggota tubuh, sering terjadi gangguan gerakan mulut dan manifestasi yang sesuai, seperti: makan lambat, mudah tersedak dan batuk, sering terputus dalam pemberian makan, mudah muntah dan menolak makan, ketidakmampuan mengunyah, ketidakmampuan minum dari cangkir, sering membuka mulut, mengeluarkan air liur, kesulitan menelan, dll. Pada usia sekolah, bicara cadel mungkin merupakan manifestasi utama.  Faktor psikososial: Anak-anak tanpa penyakit organik sering mengalami masalah dengan makan, umumnya: 1.  Perilaku dan kognisi orang tua: pengetahuan orang tua tentang pemberian makan tidak memadai dan mereka menggantikan perasaan mereka sendiri untuk penilaian makan anak-anak mereka, daripada kebutuhan anak-anak mereka, dan gagal menyesuaikan pemberian makan dengan benar sesuai dengan situasi anak-anak mereka, seperti tidak menambahkan makanan ketika mereka pikir itu “panas” atau memaksa anak-anak mereka untuk makan ketika mereka tidak merasa lapar, sehingga melemahkan minat mereka untuk makan.  3.Lingkungan makan: banyak gangguan, gangguan, atau faktor tidak menyenangkan lainnya.  4, faktor individu: setiap anak memiliki neurotipe yang berbeda, yaitu temperamen yang berbeda, dan memiliki reaksi yang berbeda terhadap makan. Anak-anak dengan temperamen yang sulit memiliki reaksi emosional yang lebih kuat, yang dapat dengan mudah menyebabkan masalah makan. Tidaklah tepat untuk menggunakan metode pemberian makan yang sama tanpa mempertimbangkan perbedaan kepribadian anak, yang dapat dengan mudah menyebabkan masalah psikologis dengan makan.  Oleh karena itu, ketika seorang anak memiliki masalah makan, penting untuk mengetahui penyebab masalahnya dari dokter, terapis, atau ahli gizi, sehingga masalahnya dapat diselesaikan dengan benar dan tidak dianggap remeh. Hanya dengan perkembangan makan dan pemberian makan yang normal, kita dapat memastikan asupan nutrisi yang memadai untuk memastikan pertumbuhan dan perkembangan anak.