Apa saja kriteria diagnostik untuk gangguan tidur sambil berjalan?

Diagnosis gangguan berjalan dalam mimpi biasanya dapat dipahami melalui riwayat medis pasien. Gangguan berjalan dalam mimpi jelas merupakan kondisi kesadaran yang bermutasi, di mana pasien kehilangan kontak dengan lingkungannya dan pasien tampaknya hidup dalam dunia pribadi. Pasien terkadang sangat gelisah dan bahkan mungkin berbicara banyak omong kosong, sehingga menyulitkan orang di sebelahnya untuk memahami apa yang dikatakannya. Pasien tampaknya terlibat dalam aktivitas yang sangat bermakna. Aktivitas ini sering kali merupakan pengulangan simbolis dari pengalaman menyakitkan pasien yang direpresi. Pasien tidak tahu apa-apa tentang gangguan berjalan dalam mimpi ketika gangguan itu berakhir. Kriteria diagnostik untuk DSM-III: Kriteria diagnostik dalam Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental DSM-III adalah definisi terbaru dari gangguan tidur berjalan dalam psikologi dan mencakup lima hal utama berikut: 1. Perilaku tidur-bangun dan berjalan yang sering, biasanya terjadi pada sepertiga awal tahap tidur utama. 2. Ketika terjadi gangguan berjalan dalam tidur, pasien memiliki ekspresi wajah yang tumpul dan sebagian besar tidak responsif terhadap rangsangan dari orang lain, dan orang yang berjalan dalam tidur sulit dibangunkan secara paksa. 3. Ketika terbangun (baik di akhir somnambulisme atau keesokan paginya), pasien sebagian besar melupakan semua yang terjadi selama somnambulisme. 4. Dalam beberapa menit setelah terbangun dari kondisi somnambulisme, aktivitas mental dan perilaku pasien tidak terganggu (meskipun ada kebingungan dan disorientasi pada saat-saat pertama kali terbangun). 5. Tidak ada faktor organik seperti epilepsi yang terlibat dalam permulaan dan perkembangan gangguan tidur sambil berjalan. Pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab: 1. Apa saja gejala awalnya, apa saja karakteristik bentuk onsetnya, apakah ada stres akibat peristiwa kehidupan, apa saja karakteristik perjalanan penyakitnya, dan apakah penyakitnya menetap. 2. Bagaimana perilaku selama episode tersebut, bagaimana rentang perhatian dan daya tanggapnya, dan apakah orang tersebut dapat kembali ke tempat tidur dengan tenang sendiri atau dengan bimbingan orang lain. 3. Apakah pasien dapat mengingat kembali apa yang terjadi setelah bangun tidur. 4. Apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit tidur, teror malam atau enuresis. 5. Apakah fungsi sosial pasien terganggu. 6. Apakah pasien pernah menderita gangguan jiwa sebelumnya, penyakit fisik lainnya, dan apakah ada kemungkinan pemicu obat. 7. Apa ciri-ciri kepribadian pasien dan apakah ada faktor psikologis yang terkait.