1. Mulailah menyusui sedini mungkin setelah melahirkan dan pastikan bahwa makanan pertama bayi Anda adalah ASI. Mulailah membiarkan bayi Anda menyusu pada payudara Anda berulang kali sedini mungkin setelah melahirkan. Makanan pertama untuk bayi setelah lahir adalah ASI. Pemberian ASI eksklusif harus dilakukan selama penurunan berat badan setelah lahir tidak melebihi 7% dari berat badan lahir. Tidak perlu terlalu sering menyeka atau mensterilkan puting sebelum menyusui. Faktor pendukung seperti lingkungan yang hangat, suasana hati yang menyenangkan, dorongan mental dan pijatan payudara dapat membantu kelancaran dan keberhasilan proses menyusui. 2. Bersikeraslah untuk memberikan ASI eksklusif hingga usia 6 bulan. ASI eksklusif dapat memenuhi semua cairan, energi dan nutrisi yang dibutuhkan oleh bayi hingga usia 6 bulan dan harus dipatuhi selama 6 bulan. Menyusui sesuai kebutuhan, bergantian antara kedua payudara; menyusui 6 hingga 8 kali sehari atau lebih. Bersikeraslah agar bayi menyusu langsung dari payudara dan tidak menggunakan botol untuk memberikan ASI perah secara tidak langsung jika memungkinkan. Jika keadaan khusus mengharuskan penambahan makanan pendamping ASI sebelum usia 6 bulan, keputusan harus dibuat dengan hati-hati setelah berkonsultasi dengan dokter atau profesional lainnya. 3. Beri makan yang sesuai dan buatlah rutinitas yang baik. Menyusui harus berkembang dari pola pemberian makan sesuai permintaan menjadi pola pemberian makan yang teratur. Pemberian makan harus segera dilakukan ketika rasa lapar menyebabkan bayi menangis. Jangan memaksakan jumlah dan durasi pemberian makan, tetapi umumnya jumlah pemberian makan per hari mungkin lebih dari 8, dan pada awalnya setelah lahir akan lebih dari 10. Seiring bertambahnya usia bayi, secara bertahap kurangi jumlah pemberian makan dan tetapkan pola makan yang baik dengan pemberian makan yang teratur. Jika bayi menangis secara tidak normal, penyebab non-kelaparan harus dipertimbangkan dan perhatian medis aktif harus dicari. 4. Suplementasi vitamin D harus dimulai beberapa hari setelah kelahiran dan suplementasi kalsium tidak diperlukan. Suplementasi vitamin D3 sebanyak 10μg (400 IU) setiap hari harus dimulai pada beberapa hari pertama kehidupan. Suplementasi kalsium tidak diperlukan untuk bayi yang mendapat ASI eksklusif. Bayi baru lahir harus diberikan vitamin K1 1mg intramuskular setelah lahir. 5. Susu formula adalah pilihan terakhir ketika pemberian ASI eksklusif tidak memungkinkan. Tidak ada susu formula bayi yang sebanding dengan ASI dan hanya boleh digunakan sebagai pilihan terakhir ketika menyusui gagal atau sebagai suplemen untuk ASI ketika ASI tidak mencukupi. Susu formula direkomendasikan untuk bayi hingga usia 6 bulan dalam situasi berikut: (1) Bayi dengan galaktosemia, fenilketonuria, hiperbilirubinemia ASI yang parah. (2) Ibu menderita infeksi HIV dan virus T-limfotropik manusia, tuberkulosis, virus varicella-zoster, virus herpes simpleks, cytomegalovirus, hepatitis B, dan hepatitis C, serta penyalahgunaan narkoba, konsumsi minuman beralkohol yang berlebihan dan merokok, penggunaan obat-obatan tertentu, pengobatan kanker, dan paparan dekat dengan zat radioaktif. (3) Produksi ASI yang tidak mencukupi meskipun sudah mendapatkan bimbingan profesional dan berbagai upaya. Tidak disarankan untuk memberi makan bayi hingga usia 6 bulan secara langsung dengan susu cair biasa, susu bubuk dewasa, bubuk protein, atau susu bubuk kedelai. 6. Pantau indikator fisik untuk menjaga pertumbuhan yang sehat. Panjang dan berat badan merupakan indikator visual dari pemberian makan dan status gizi bayi. Ukurlah panjang dan berat badan setiap setengah bulan hingga usia 6 bulan, dan lebih sering lagi selama masa pemulihan dari sakit. Kurva Pertumbuhan Anak dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) digunakan untuk menentukan pertumbuhan. Pola pertumbuhan optimal untuk bayi dengan berat badan lahir normal adalah mempertahankan tingkat distribusi yang sama dalam kelompok saat lahir. Bayi memiliki pola pertumbuhannya sendiri dan tidak disarankan untuk mengejar batas atas dari nilai referensi. Bayi harus terus disusui sejak usia 6 bulan dan seterusnya dan secara bertahap diperkenalkan dengan berbagai jenis makanan. Makanan pendamping ASI adalah makanan dengan berbagai jenis selain ASI dan/atau susu formula. Jika ada kebutuhan khusus, waktu pemberian makanan pendamping ASI harus disesuaikan dengan pengawasan medis. 2. Mulailah dengan makanan pasta yang kaya zat besi dan secara bertahap tambahkan berbagai makanan. Mulailah dengan menambahkan tepung beras bayi yang diperkaya zat besi, daging yang dihaluskan, dan makanan bubur kaya zat besi lainnya. Perkenalkan hanya satu makanan baru pada satu waktu dan secara bertahap lakukan diversifikasi. Minyak sayur harus ditambahkan secukupnya pada makanan pendamping ASI. 3. Doronglah pemberian makanan yang sesuai untuk mendorong tetapi tidak memaksa memberi makan Beri makan dengan sabar dan doronglah untuk memberi makan, tetapi jangan pernah memaksa memberi makan. Dorong dan bantu bayi untuk makan sendiri dan kembangkan minat untuk makan. Jangan menonton TV atau bermain dengan mainan selama makan dan jangan menghabiskan waktu lebih dari 20 menit setiap kali makan. Harus ada komunikasi yang memadai antara pemberi makan dan bayi pada waktu makan, tanpa menggunakan makanan sebagai hadiah atau hukuman. Orang tua harus mempertahankan kebiasaan makan yang baik dan menjadi teladan bagi anak-anak mereka. 4. Makanan pendamping ASI tanpa bumbu harus disiapkan secara terpisah. Biarkan makanan apa adanya dan jangan tambahkan gula, garam, dan bumbu. Setelah usia 1 tahun, secara bertahap cobalah makanan keluarga yang rasanya ringan. 5. Perhatikan kebersihan makanan dan keamanan makan Pilihlah bahan makanan yang aman, berkualitas tinggi, dan segar. Selalu jaga kebersihan dan higienis dalam proses memasak, serta pisahkan makanan mentah dan makanan matang. Jangan makan makanan sisa dan simpan serta buanglah makanan sisa dengan benar. Cuci tangan sebelum makan, minta pengawasan orang dewasa saat makan, dan perhatikan keamanan lingkungan makan. 6. Pemantauan indikator fisik secara teratur Mengupayakan pertumbuhan yang sehat Berat dan panjang badan merupakan indikator visual dari status gizi bayi dan anak. Ukurlah panjang, berat badan, lingkar kepala, dan indikator pertumbuhan fisik lainnya secara teratur setiap 3 bulan sekali. Pertumbuhan yang stabil adalah pola pertumbuhan yang terbaik.