Penyakit alergi memiliki proses perkembangan, yang secara klinis dikenal sebagai perjalanan alergi. Ini berarti bahwa manifestasi penyakit alergi berubah secara bertahap seiring bertambahnya usia anak, dengan gejala alergi yang berbeda yang bertahan dalam berbagai sistem. Studi klinis telah menunjukkan bahwa risiko terkena rinitis alergi dan asma di kemudian hari pada anak-anak dengan alergi makanan yang menetap (lebih dari 1 tahun) masing-masing 3,4 dan 5,5 kali lebih tinggi, dibandingkan dengan anak-anak yang alergi makanannya bersifat sementara. Di antara anak-anak yang alergi susu hingga usia 10 tahun, 41 persen menderita asma dan 31 persen menderita rinitis alergi atau konjungtivitis. Oleh karena itu, alergi makanan merupakan faktor risiko untuk penyakit alergi lainnya. Deteksi dini dan penanganan alergi makanan dapat mengurangi risiko penyakit alergi serius lainnya di kemudian hari.