Influenza musiman secara perlahan-lahan menyebar ke seluruh negeri, dan wanita hamil berisiko lebih tinggi untuk mengalami komplikasi yang berhubungan dengan influenza. Dalam sebuah wawancara dengan Medscape, Dr Sonja Rasmussen, Direktur Kantor Tanggap Darurat Kesehatan Masyarakat di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), menyoroti dampak influenza pada kehamilan terhadap ibu dan bayi serta pesan penting bahwa ibu hamil harus divaksinasi untuk mencegah risiko terkait influenza, serta mendiskusikan rekomendasi untuk pengobatan influenza musiman pada ibu hamil. Baru-baru ini, Dr Sonja Rasmussen dan Dr Denise Jamieson menerbitkan sebuah artikel di New England Journal of Medicine yang membahas cara melindungi ibu hamil dan bayi yang terkena influenza. Wanita hamil sering kali tidak menyadari bahwa mereka berisiko tinggi mengalami komplikasi terkait flu. Perubahan sistem kekebalan tubuh dan fungsi kardiorespirasi selama kehamilan membuat wanita hamil lebih rentan terhadap penyakit serius dan bahkan kematian ketika mereka terkena flu. 1. Pencegahan Influenza pada Kehamilan Wanita hamil sering kali tidak menyadari manfaat vaksin flu untuk bayi mereka, CDC merekomendasikan bahwa orang berusia 6 bulan ke atas harus secara rutin menerima vaksin flu setiap tahun. Vaksinasi influenza adalah perlindungan terbaik terhadap influenza yang tersedia. Vaksinasi flu selama kehamilan tidak hanya mengurangi risiko infeksi virus influenza pada ibu hamil, tetapi juga mengurangi kejadian influenza pada bayi hingga usia 6 bulan. Hal ini dikarenakan bayi di bawah usia 6 bulan masih terlalu muda untuk mendapatkan vaksin flu. Selain itu, penelitian telah menunjukkan bahwa wanita hamil yang divaksinasi dapat mengurangi kejadian hasil kehamilan yang merugikan seperti retardasi pertumbuhan janin dalam kandungan dan kelahiran prematur. Vaksin flu yang tidak aktif aman untuk wanita hamil dan dapat diberikan setelah trimester ketiga. Vaksin influenza hidup yang dilemahkan (live attenuated, atau semprotan hidung) tidak dianjurkan selama kehamilan. Selama bertahun-tahun, jutaan wanita hamil telah divaksinasi flu, dan hingga saat ini vaksin flu tidak terbukti membahayakan wanita hamil atau bayi. Sebagai penyedia layanan kesehatan, saran Anda dan ketersediaan vaksin flu adalah kunci untuk vaksinasi wanita hamil. Dokter harus memberi tahu wanita hamil tentang risiko komplikasi terkait flu dan fakta bahwa vaksinasi flu selama kehamilan melindungi dari virus influenza hingga 6 bulan setelah bayi lahir, sehingga meningkatkan jumlah wanita hamil yang menerima vaksin ini. 2. Pengobatan influenza pada kehamilan Jika seorang wanita hamil dicurigai menderita influenza, ia harus segera diobati dengan terapi antivirus. Ketika influenza didiagnosis atau dicurigai pada wanita hamil, ia harus diberikan pengobatan oseltamivir sesegera mungkin, baik saat ia sedang hamil muda maupun tidak. Para ahli saat ini merekomendasikan agar wanita hamil menerima dosis antivirus yang sama dengan wanita yang tidak hamil. Dokter harus mendasarkan pengobatan pada evaluasi klinis, bukan karena sensitivitas tes diagnostik flu yang terbatas. Idealnya, terapi antivirus harus dimulai dalam waktu 48 jam sejak timbulnya gejala. Oleh karena itu, wanita hamil harus didorong untuk mencari pertolongan medis dini pada saat timbulnya gejala influenza, meskipun pengobatan diberikan 48 jam setelah timbulnya gejala, yang tampaknya sangat bermanfaat bagi wanita hamil. Data yang tersedia menunjukkan bahwa penggunaan oseltamivir selama kehamilan tidak membahayakan janin.