Alergi sinar UV

Alergi UV, yang secara klinis dikenal sebagai fotodermatitis, adalah dermatosis fisik, penyakit kulit inflamasi fototoksik yang disebabkan oleh aksi sinar UV pada kulit manusia. Gejala pada beberapa pasien mungkin terkait dengan faktor genetik, tetapi juga faktor pribadi, faktor makanan, faktor obat, faktor lingkungan, dll. Pasien mungkin mengalami eritema, papula, papula, rasa terbakar, kesemutan, atau gatal, yang dapat diobati dengan perlindungan pribadi, pengobatan lokal, dan pengobatan sistemik. 1. Penyebab: 1. Faktor pribadi: kulit itu sendiri memang sensitif, kosmetik yang digunakan tidak sesuai dengan jenis kulit individu, atau karena alasan pekerjaan harus terpapar di luar ruangan dalam jangka waktu yang lebih lama, sehingga membuat kulit dalam kondisi sensitif; 2. Faktor makanan: disebabkan oleh asupan atau kontak yang berlebihan dengan makanan yang mengandung zat fotosensitif, makanan yang umum yang mengandung zat fotosensitif antara lain seledri, selada, buah ara, bayam, dan lain-lain; 3. Obat-obatan Faktor: seperti pil kontrasepsi, reaksi obat penisilin, yang dapat menyebabkan alergi kulit, dapat memicu alergi ultraviolet; 4, faktor lingkungan: perubahan abnormal pada suhu lingkungan, panas dan dingin, atau lingkungan memiliki serbuk sari alergen, debu, dll., juga merupakan salah satu penyebab alergi ultraviolet. Pengobatan: 1. Perlindungan pribadi: Dalam kehidupan sehari-hari, kita perlu menghilangkan faktor-faktor yang menyebabkan alergi kulit, memperhatikan menghindari sinar matahari dan radiasi ultraviolet, mengembangkan kebiasaan pencegahan dan penghindaran cahaya, memperhatikan langkah-langkah perlindungan matahari yang baik saat keluar rumah, Anda dapat bermain payung, memakai topi matahari, memakai baju lengan panjang, mengoleskan tabir surya, dll. Juga hindari kontak dengan zat penyebab alergi; 2. Pengobatan lokal: Saat ruam muncul di bagian wajah atau tangan dan kaki yang terpapar, Anda bisa Gunakan salep tacrolimus dan salep seng oksida untuk meredakan gejala. Jika terjadi pembengkakan lokal, kompres basah dan dingin lokal seperti larutan garam atau asam borat dapat digunakan. 3. Pengobatan sistemik: Untuk reaksi alergi yang lebih serius, disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter dan memilih antihistamin seperti loratadin dan benadryl untuk perawatan di bawah pengawasan medis. Jika terdapat edema, diuretik seperti furosemid dan kaptopril dapat digunakan sebagai tambahan pengobatan. Dalam kasus infeksi bersama, antibiotik harus diberikan secara aktif untuk memerangi infeksi.