Saat ini, kejadian infertilitas di negara kita sedang meningkat, dan semakin mendapat perhatian dari masyarakat, dan artikel ini memberikan gambaran umum tentang alasan peningkatan kejadian infertilitas wanita. Pertama, peningkatan angka infeksi saluran reproduksi Penelitian menunjukkan bahwa 20~40% infertilitas wanita disebabkan oleh infeksi. Infeksi mikroba patogen merupakan penyebab penting infertilitas. Saat ini, kejadian infeksi saluran reproduksi di Cina terus meningkat. 1, infeksi mikoplasma Mikoplasma ada di saluran kelamin pria dan wanita dan spesimen air mani. Mycoplasma solani dapat hidup bersimbiosis dengan flora lain dan berkembang menjadi mikroorganisme patogen ketika kekebalan tubuh rendah atau selaput lendir rusak. Mycoplasma menghasilkan amonia dalam jumlah besar dengan cara memecah urea dari jaringan yang sakit. Efek sitotoksik amonia menyebabkan degenerasi dan nekrosis sel mukosa saluran genital dan stagnasi gerakan silia tuba, yang mengganggu pembentukan sel telur yang telah dibuahi. Mycoplasma juga dapat membuat sperma berhenti atau mati. 2, Chlamydia trachomatis Chlamydia trachomatis adalah kelas unik dari mikroorganisme yang menghuni sel. Faktor risiko yang terkait dengan perkembangan Chlamydia trachomatis antara lain usia (20-40 tahun), sering berganti-ganti pasangan seksual, memiliki pasangan baru dalam enam bulan terakhir, memiliki pasangan seksual dengan gejala infeksi saluran kemih, dan tidak menggunakan kondom saat berhubungan seksual. 3, gonococcus Gonococcus lebih sering terjadi pada pria muda, dan epididimi-orkitis gonokokal dapat menyebabkan oligospermia dan azoospermia yang menetap. Beberapa infeksi gonokokus pada wanita dapat menyebabkan penyakit radang panggul yang menyebabkan infertilitas dan kehamilan ektopik. Mycoplasma solani dan Chlamydia trachomatis dapat menyebabkan servisitis, endometritis, dan salpingitis, dan peradangan kronis yang berkepanjangan dapat menyebabkan hidrops, ketidaksempurnaan, penyumbatan, atau ketidaksuburan kekebalan tubuh. Terdapat juga risiko keguguran, teratogenesis, kelahiran mati, dan persalinan prematur pada orang dengan infeksi Mycoplasma deiureticum. Kejadian infertilitas berhubungan dengan jumlah episode infeksi panggul. Literatur luar negeri melaporkan bahwa 21% pasien dengan satu episode infeksi panggul akan mengalami infertilitas, dan kejadian ini meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah episode infeksi panggul. Sekitar 1/2 dari pasien tidak dapat memperoleh pengobatan yang tepat waktu dan efektif karena gejalanya tidak jelas, sehingga risiko infertilitas meningkat. Kedua, peningkatan volume operasi perut dan panggul (aborsi dan operasi caesar) Operasi perut dan panggul (misalnya usus buntu) mengganggu rongga panggul, sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi pasca operasi. Munculnya era baru telah menyebabkan perubahan sikap, namun kurangnya pengetahuan medis dan tindakan perlindungan secara signifikan meningkatkan kejadian kehamilan yang tidak direncanakan pada wanita. Aborsi yang diinduksi, terutama aborsi ganda, tidak hanya menyebabkan kerusakan pada endometrium, tetapi juga infeksi bakteri yang dapat menyebabkan tubalitis, yang dapat menyebabkan kehamilan ektopik dan infertilitas. Beberapa ahli percaya bahwa operasi caesar secara langsung atau tidak langsung memengaruhi fungsi tuba falopi, yang disebabkan oleh cedera bedah dan perlekatan radang panggul yang terjadi bersamaan. Dalam beberapa tahun terakhir, tingkat operasi caesar ibu di Tiongkok jauh lebih tinggi daripada di negara-negara maju, dan tingkat operasi caesar di beberapa rumah sakit bahkan mencapai 80%. Ketiga, penggunaan alat kontrasepsi dalam rahim secara luas Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan alat kontrasepsi dalam rahim telah menjadi salah satu tindakan pengendalian kelahiran yang paling penting. Ada korelasi yang signifikan antara IUD dan endometritis. Pada saat yang sama, batas waktu pemasangan IUD berhubungan dengan terjadinya kehamilan ektopik. Terdapat peningkatan risiko infertilitas sekunder dengan pemasangan IUD karena faktor radang panggul.