Penyebab vasokonstriksi kulit dalam pola retikulasi umumnya dianggap ada dua: penyakit dermatologis dan cedera akibat sengatan listrik. Dalam dunia kedokteran, dermatosis adalah penyakit yang berkaitan dengan kulit dan merupakan salah satu penyakit yang umum dan sering terjadi yang secara serius memengaruhi kesehatan masyarakat, seperti kusta, kudis, penyakit jamur, dan infeksi kulit akibat bakteri. Penyakit dermatologis adalah hasil dari perubahan morfologi, struktur dan fungsi kulit (termasuk rambut dan kuku) ketika dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal, menghasilkan proses patologis dan berbagai manifestasi klinis yang berurutan. Insiden penyakit kulit cukup tinggi, relatif ringan dan seringkali tidak memengaruhi kesehatan, tetapi beberapa di antaranya cukup parah dan bahkan dapat mengancam jiwa. Sengatan listrik (electrical ingury), umumnya dikenal sebagai sengatan listrik, biasanya disebabkan oleh kerusakan jaringan dan disfungsi ketika tubuh disentuh langsung oleh sumber listrik atau ketika listrik bertegangan tinggi melewati udara atau media konduktif lainnya, yang menyebabkan henti jantung dan pernapasan pada kasus-kasus yang parah. Listrik bertegangan tinggi yang melebihi 1000V (volt) juga dapat menyebabkan luka bakar. Cedera petir (sambaran petir) termasuk dalam kategori cedera listrik tegangan tinggi. Tubuh manusia, sebagai konduktor listrik, menjadi bagian dari sirkuit listrik ketika bersentuhan dengan arus. Tingkat keparahan kerusakan pada tubuh manusia dan tegangan, kekuatan arus, DC dan AC, frekuensi, waktu, bagian kontak, arah arus, dan lingkungan kondisi cuaca sangat erat kaitannya, yang lebih terkait dengan tingkat tegangan. Tegangan 40V berisiko menyebabkan kerusakan jaringan, 220V dapat menyebabkan fibrilasi ventrikel, dan 1000V dapat melumpuhkan pusat pernapasan. Arus dapat mendepolarisasi membran sel otot, 10-20mA (miliampere) sudah dapat menyebabkan kontraksi otot, 50-60mA dapat menyebabkan fibrilasi ventrikel. Arus bolak-balik dapat menyebabkan kejang otot terus menerus dan dapat “ditahan” oleh sumber listrik sehingga orang yang tersengat listrik tidak dapat melepaskan diri dari sumber listrik. Arus bolak-balik frekuensi rendah lebih berbahaya daripada frekuensi tinggi, terutama bila frekuensinya 50-60Hz (Hz) per detik, dapat dengan mudah menyebabkan fibrilasi ventrikel. Oleh karena itu, AC lebih berbahaya daripada DC. Resistensi jaringan yang berbeda dalam kondisi yang berbeda, juga berbeda.