Jika kita mengibaratkan selaput lendir perut kita sebagai “atap” rumah, selaput lendir ini selalu terlindung dari “angin, hujan, salju dan embun beku” dan terkadang “hujan es”. “Angin”, “embun beku”, “hujan”, dan “salju” ini adalah berbagai hal yang kita makan, seperti berbagai Makanan, alkohol, obat-obatan, mikroorganisme (misalnya bakteri, virus, dll.), garam empedu dari hati dan empedu serta cairan pencernaan yang dikeluarkan oleh mukosa lambung itu sendiri, termasuk asam lambung dan pepsin, yang semuanya dapat merusak mukosa saluran cerna (yaitu faktor penyebab). “Atap” terdiri dari selaput lendir lambung dan usus, lendir yang disekresikan oleh mukosa lambung, suplai darah yang kaya pada mukosa lambung, metabolisme sel dan berbagai sitokin, yang secara bersama-sama bertindak sebagai “dinding batu bata” (faktor pertahanan) untuk melindungi mukosa lambung. Dalam keadaan normal, faktor pertahanan dan faktor serangan selalu dalam keadaan “seimbang” dan dengan demikian lambung kita aman dan sehat. Faktor serangan lebih besar daripada faktor pertahanan ketika ada stres emosional, stres mental atau infeksi H. pylori, pola makan yang tidak tepat (makan berlebihan, asupan makanan yang merangsang secara berlebihan, dll.), Konsumsi alkohol, asupan obat perusak lambung, refluks empedu, dll. Ketika aliran darah ke mukosa lambung berkurang karena berbagai alasan (misalnya penyakit sistemik yang parah), mukosa lambung menjadi iskemik, hipoksia, kekurangan gizi, hipoproteinemia, dll., “kekuatan” mukosa lambung melemah dan faktor pertahanan melemah. Ketika faktor serangan menguat dan faktor pertahanan melemah, itu seperti atap yang bocor dan gastritis dan tukak lambung terjadi.