Lima kiat untuk pencegahan kanker

Mempertahankan Berat Badan Normal BMI <25 kg/m2 Mengurangi Risiko Kanker Payudara pada Wanita Rekomendasi ini tidak dicantumkan begitu saja oleh Tiga Besar, tetapi didasarkan pada hasil beberapa uji klinis acak baru-baru ini. Untuk mencegah kanker payudara, ACS merekomendasikan agar wanita melakukan setidaknya 150 menit olahraga intensitas sedang per minggu, minum hingga satu gelas minuman beralkohol per hari, dan menjaga indeks massa tubuh (BMI) kurang dari 25 kg/m2. Dalam sebuah uji klinis (2.905 wanita), wanita yang berisiko tinggi terkena kanker payudara mengalami penurunan risiko terkena penyakit ini sebesar 44 persen setelah mengikuti rekomendasi ACS. Women's Health Initiative Watch (64.000 wanita) menemukan bahwa mengonsumsi makanan yang sehat (lebih banyak buah dan sayuran, lebih sedikit daging, dan lebih sedikit minuman beralkohol) secara signifikan mengurangi risiko kanker payudara pada wanita: sebesar 20 persen pada wanita dengan IMT <25 kg/m2 dan 30 persen pada wanita dengan IMT 25-29,9 kg/m2. Perlu Anda ketahui bahwa diet sehat tidak mengurangi risiko kanker payudara pada wanita gemuk. Anda mungkin tidak terkejut mendengar bahwa BMI yang tinggi merupakan faktor risiko kanker itu sendiri. Kelebihan lemak tubuh memicu resistensi insulin, dan peningkatan kadar insulin serta faktor pertumbuhan mendorong terjadinya kanker. Obesitas juga meningkatkan produksi estrogen, yang pada gilirannya merupakan rangsangan bagi banyak jenis kanker. Selain itu, lemak mengeluarkan sitokin yang meningkatkan peradangan. Sebuah meta-analisis terbaru dari 50 studi observasional prospektif menemukan bahwa mempertahankan berat badan normal pada orang dewasa dapat mencegah beberapa jenis kanker tertentu, terutama kanker yang tidak diindikasikan untuk terapi penggantian hormon (HRT). Sebagai contoh, untuk setiap kenaikan 5 kg berat badan pada wanita dewasa, risiko relatif kanker payudara pascamenopause meningkat 11 persen, kanker endometrium pascamenopause 39 persen, dan kanker ovarium pascamenopause 13 persen. Masalah utamanya adalah berat badan orang dewasa meningkat seiring bertambahnya usia, dan tidak ada pertahanan untuk melawannya. Jadi, satu-satunya hal yang dapat Anda lakukan adalah mengelola kesehatan Anda. Peningkatan Aktivitas Fisik MET = 7,5-15, Mengurangi Risiko Kematian Akibat Kanker Beberapa penelitian observasional menemukan bahwa aktivitas fisik mengurangi risiko kanker payudara, kolorektal, dan endometrium. Sebuah studi terhadap populasi Amerika Serikat dan Eropa menemukan risiko kematian akibat kanker sebesar 20% lebih rendah di antara mereka yang berolahraga pada tingkat olahraga minimum yang direkomendasikan - 7,5-15 metabolic equivalen per minggu (MET) - dibandingkan dengan mereka yang tidak berolahraga. Pada Pertemuan Tahunan ASCO tahun ini, Profesor Abrams dari University of California mencatat bahwa olahraga meningkatkan prognosis pasien kanker setelah diagnosis. Sebuah meta-analisis baru-baru ini terhadap para penyintas kanker payudara dan kolorektal (50.000 pasien) juga menunjukkan bahwa aktif secara fisik dapat menurunkan angka kematian akibat kanker payudara dan kolorektal pada para penyintas. Lebih banyak sayuran, lebih sedikit daging? Makan Daging Tanpa Lemak Tidak Terlalu Buruk Sebuah studi meta-analisis baru-baru ini menemukan bahwa makan lebih banyak buah dan sayuran mengurangi semua penyebab kematian dan kematian kardiovaskular pada manusia, tetapi tidak terkait dengan kematian terkait kanker. Selain itu, penelitian ini menemukan bahwa daging tanpa lemak tidak seburuk yang kita duga, setidaknya dari perspektif risiko kanker. Menurut European Prospective Investigation into Cancer and Nutrition (EPIC), perhatian utamanya adalah apakah produk daging olahan (misalnya daging kaleng, sosis) meningkatkan risiko kanker. Studi ini menemukan bahwa tambahan 50 gram produk daging olahan per hari dikaitkan dengan risiko kanker 11 persen lebih tinggi. Namun, daging tanpa lemak tidak dikaitkan dengan risiko kanker. Oleh karena itu, produk daging olahan lebih penting untuk diwaspadai daripada daging tanpa lemak. Minum alkohol dalam jumlah sedang 1 gelas standar per hari dan tidak lebih Minum alkohol dalam jumlah banyak (lebih dari 5 gelas standar per hari) secara signifikan dikaitkan dengan perkembangan 10 jenis kanker: kanker orofaring, skuamosa esofagus, payudara, laring, kolorektal, hati, lambung, empedu, pankreas, dan paru-paru. Selain itu, sejumlah kecil alkohol (1 gelas minuman standar per hari) telah ditemukan dapat meningkatkan risiko kanker orofaringeal, skuamosa esofagus, dan payudara. Namun, penelitian terbaru melaporkan bahwa konsumsi alkohol dalam jumlah sedang dapat mencegah kanker. Selain itu, kita tidak dapat mengabaikan fakta bahwa tidak minum alkohol dikaitkan dengan kematian secara keseluruhan, karena morbiditas kardiovaskular cenderung lebih tinggi pada orang yang tidak minum alkohol, jadi kita tidak bisa hanya menganjurkan "tidak minum alkohol baik untuk kesehatan Anda". Jangan mengonsumsi suplemen vitamin Jika Anda tidak membutuhkannya, jangan mengonsumsinya. Sebuah uji klinis acak baru-baru ini meneliti apakah suplemen vitamin dapat mengurangi risiko kanker pada orang sehat. Namun, penelitian ini memiliki beberapa hasil yang serius: (1) asam folat meningkatkan risiko kanker, terutama kanker prostat dan kolorektal; (2) beta-karoten meningkatkan risiko kanker paru-paru dan perut; (3) selenium meningkatkan risiko kanker kulit non-melanoma; dan (4) vitamin E meningkatkan risiko kanker prostat. Singkatnya, obesitas, kurang olahraga, dan asupan alkohol yang berlebihan merupakan faktor risiko perkembangan kanker, dan kita harus memperhatikannya. Namun, kebiasaan makan mungkin bukan merupakan faktor risiko untuk perkembangan kanker, setidaknya menurut bukti saat ini.