Tanya Jawab Nyeri Kanker

I. Mengapa kanker stadium lanjut menimbulkan rasa nyeri? Pasien kanker umumnya memiliki tiga alasan berikut untuk merasakan nyeri: 1. Nyeri terkait tumor: akibat invasi langsung dan kompresi jaringan lokal oleh tumor, metastasis tumor yang melibatkan tulang dan jaringan lain. 2. Nyeri terkait pengobatan anti-tumor: umumnya terjadi setelah pembedahan, operasi pemeriksaan traumatik, radioterapi, dan pengobatan obat kemoterapi sitotoksik. Nyeri akibat faktor non-tumor: termasuk komorbiditas lain, komplikasi, dan faktor non-tumor lainnya yang disebabkan oleh nyeri. Apa bahaya dari nyeri? Nyeri adalah salah satu gejala yang paling umum dialami pasien kanker, yang secara serius memengaruhi kualitas hidup pasien kanker. Insiden nyeri pada pasien kanker stadium lanjut adalah sekitar 60%-80%, dan 1/3 di antaranya mengalami nyeri yang parah. Jika nyeri kanker tidak diredakan, pasien akan merasa sangat tidak nyaman, yang dapat menyebabkan atau memperparah gejala pasien seperti kecemasan, depresi, kelelahan, insomnia, kehilangan nafsu makan, dan lain-lain, yang secara serius mempengaruhi kualitas hidup pasien. Ketiga, apakah pasien kanker harus menahan rasa sakit? Untuk waktu yang lama, dokter, pasien dan keluarga mereka belum mengubah konsep nyeri kanker secara mendasar, berpikir bahwa pasien kanker harus kesakitan, dan bahwa mereka harus mentolerir rasa sakit, takut akan penggunaan morfin, takut akan kecanduan, takut akan efek samping, dan bahwa konsep ini memungkinkan banyak pasien kanker menahan rasa sakit yang luar biasa untuk menyelesaikan perjalanan terakhir dalam hidup mereka, dengan kualitas hidup yang sangat buruk, dan konsep yang salah ini harus diubah secara mendasar. Pasien kanker memiliki hak untuk meminta pengobatan pereda nyeri, dan tenaga medis memiliki kewajiban untuk mengendalikan rasa sakit pasien, dan berusaha membuat pasien kanker bebas dari rasa sakit dan hidup dengan bermartabat dan berkualitas. IV. Apa saja prinsip pengobatan nyeri farmakologis untuk pasien kanker? Menurut Pedoman WHO untuk Pengobatan Tiga Langkah Pereda Nyeri untuk Nyeri Kanker, lima prinsip dasar pengobatan pereda nyeri farmakologis untuk nyeri kanker adalah sebagai berikut: 1. Pemberian secara oral. 2. Pemberian obat sesuai dengan tangga. Artinya, obat analgesik dengan kekuatan yang berbeda harus dipilih dengan cara yang tepat sasaran sesuai dengan tingkat nyeri pasien. 3, pengobatan tepat waktu. Mengacu pada pemberian analgesik secara teratur pada interval yang ditentukan. Pemberian tepat waktu membantu mempertahankan konsentrasi darah yang stabil dan efektif. Saat ini, penggunaan klinis obat lepas lambat semakin meluas, dengan menekankan penggunaan opioid lepas lambat sebagai dasar pereda nyeri. Pemberian obat secara individual. Hal ini mengacu pada perumusan rencana pemberian obat yang disesuaikan dengan kondisi pasien dan dosis obat pereda nyeri kanker. 5. Perhatikan detail spesifik. Pasien yang menggunakan obat pereda nyeri harus dipantau secara ketat untuk mengamati tingkat pereda nyeri dan reaksi tubuh, serta mengambil tindakan yang diperlukan pada waktunya untuk mengurangi reaksi obat yang merugikan sebanyak mungkin, dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. V. Apakah ada batasan dosis morfin yang diberikan kepada pasien kanker? Morfin dan obat sejenisnya umumnya digunakan dalam pengobatan nyeri kanker, dan tidak ada batasan jumlah morfin yang diberikan kepada pasien kanker untuk pengendalian nyeri. Dengan kata lain, dosis morfin diberikan sesuai kebutuhan, dan untuk mencapai tujuan meredakan nyeri kanker yang memadai, dosis morfin yang diperlukan dapat tidak dibatasi. Apakah morfin membuat ketagihan pada pasien kanker? Sensitivitas tubuh manusia terhadap morfin sangat bervariasi di antara individu, beberapa pasien hanya perlu menggunakan dosis yang sangat kecil untuk menghilangkan rasa sakit, sementara yang lain perlu menggunakan dosis yang jauh lebih besar untuk mencapai efek yang sama. Obat harus digunakan secara bertahap mulai dari dosis kecil dan terus disesuaikan hingga rasa sakitnya terkendali secara memuaskan. Telah terbukti dalam praktiknya bahwa fenomena kecanduan yang disebabkan oleh penggunaan obat yang menyerupai morfin dalam pengobatan nyeri kanker sangat jarang terjadi. Apa saja efek samping dari obat morfin? Efek samping morfin terutama meliputi: sembelit, mual, muntah, kantuk, gatal, pusing, retensi urin, mengigau, gangguan kognitif, depresi pernapasan, dan sebagainya. Kecuali sembelit, sebagian besar efek samping opioid bersifat sementara atau dapat ditoleransi. VIII. Mengapa Dulcolax tidak dianjurkan untuk meredakan nyeri pada pasien kanker? Dulcolax memiliki efek analgesik yang buruk, durasi kerja yang pendek, dan toksisitas akumulasi yang tinggi dalam penggunaan jangka panjang, oleh karena itu, tidak disarankan untuk menggunakan pengobatan analgesik Dulcolax untuk pasien kanker.