Bagaimana Anda melihat gejala somatisasi?

  Kita sering melihat kasus ketidaknyamanan fisik, seperti sakit kepala, pusing, dada sesak, perasaan tertekan di dada, sesak napas, ketidaknyamanan yang tak terlukiskan, dll. Beberapa pasien bahkan menduga bahwa mereka akan terkena serangan jantung atau terkena kanker, tetapi mereka pergi ke rumah sakit untuk berbagai tes dan tidak ada yang salah dengan mereka, dan akhirnya mereka disarankan untuk menemui seorang psikolog.  Bagaimana masalah fisik dapat dikaitkan dengan masalah psikologis?   Pertama-tama, kita perlu mengetahui bahwa tubuh adalah organ emosional yang sangat besar, dan tubuh juga memiliki fungsi untuk mengekspresikan emosi! Kita semua pernah mengalami hal ini saat masih kecil, mengatakan bahwa kita tidak enak badan saat tidak ingin pergi ke sekolah, namun sebenarnya ini adalah bentuk protes dari tubuh kita. Tentu saja, pada saat ini masih hanya menggunakan tubuh sebagai alasan dan tidak menggunakannya untuk mengekspresikan emosi. Ketika kita terbiasa menggunakan tubuh kita sebagai alasan, terkadang tubuh kita benar-benar merasakannya, seperti sakit perut, pusing, dan lemas. Beberapa anak mungkin merasa sangat dirugikan oleh kritik guru di sekolah sehingga mereka tidak ingin pergi ke sekolah keesokan harinya, dan mereka mungkin benar-benar merasa tidak enak badan dan bahkan mengalami demam ringan. Ini adalah saat tubuh “membantu” kita dengan memberikan alasan untuk tidak pergi ke sekolah, dan pada saat yang sama tubuh “mengekspresikan” emosi agresi.  Ada banyak cara untuk mengekspresikan dan melampiaskan perasaan buruk, seperti berbicara dengan teman yang baik, atau menangis, atau makan besar, atau pergi ke lapangan olahraga dan mengeluarkan keringat. Namun, jika emosi sangat kuat, atau jika tidak ada solusi yang baik, atau jika mengekspresikannya akan menyebabkan lebih banyak masalah, emosi dapat diekspresikan secara fisik, yang kita sebut sebagai somatisasi. Singkatnya, konflik batin diekspresikan melalui ketidaknyamanan fisik.  Dari perspektif ini, kita mungkin dapat memahami sebagian mengapa masalah psikologis juga dapat menyebabkan ketidaknyamanan fisik. Ketika kita menyadari hubungan ini, itu juga berarti langkah pertama menuju penyembuhan telah diambil. Kita perlu memutus hubungan yang buruk ini dan tidak membiarkan tubuh terus ‘mendukung’ emosi tersebut, tetapi mengatasinya dengan cara yang sehat. Proses ini perlu dianalisis dan didiskusikan dengan psikoterapis.